-->

Minggu, 26 Juli 2020

Pemuda Tani dan PPL Kab. Maros Kembangkan Cabe Organik Dengan Memanfaatkan Lahan Tidur



Maros, Sigapnews.com, - Lahan merupakan bagian dari bentang alam (landscape) yang mempunyai sifat keruangan (spatial) dan merupakan lokasi aktivitas manusia. Fenomena kebutuhan lahan akan cenderung terus meningkat sejalan dengan adanya perkembangan pertumbuhan penduduk. Sementara itu lahan ditinjau dari ketersediaannya dalam arti luasan terhadap batas administratif lahan bersifat terbatas. Lahan bersifat tetap dengan nilai ekonomis yang cenderung meningkat, khususnya di perkotaan, sehingga lahan tidak hanya sebagai obyek yang dimanfaatkan tetapi juga sebagai obyek yang diam untuk kepentingan investasi.

Untuk mendongkrak laju peningkatan produksi pangan, khususnya untuk semua komoditas strategis, harus diupayakan pemanfaatan lahan tidur. Lahan tidur merupakan lahan pertanian yang sudah tidak digunakan selama lebih dari dua tahun.

Salah satu inisiator dalam memanfaatkan lahan tidur untuk peningkatan produksi pangan di Kab. Maros adalah Haji Baharuddin Syam. Alumni Pelatihan Fasilitator Organik Tanaman ini bekerja sama dengan Penyuluh Pertanian, Marwanti, SP memotivasi Pemuda Tani untuk memanfaatkan lahan tidur menjadi lahan produktif.

Menurut Haji Bahar, dia telah melakukan uji coba penanaman cabe organik pada lahan tidur di lokasi kelompok tani Lamaloang di Kecamatan Marusu. 

"Kami sudah melakukan penanaman cabe dengan cara organik di Kelompok Tani Lamaloang, Alhamdulillah cabenya saat ini sudah berbuah dan seluruh input produksi yang digunakan adalah full organik, sekalipun baru tahap awal, perkembangan cabe tersebut menunjukkan hal yang sangat positif," jelas Haji Bahar.

"Setiap hari kami terus bergerak mendatangi petani memberikan informasi terkait keuntungan melakukan budidaya secara organik, perlahan-lahan sudah banyak petani yang mulai beralih dari pola budidaya konvensional ke pola budidaya organik. Hal ini karena mereka mulai menyadari bahwa pertanian organik sangat menguntungkan," lanjutnya.

"Hari ini kita sedang melakukan pembersihan lahan bersama kelompok Pemuda Tani di desa Temmapaduae, Kec. Marusu. Ini adalah lokasi kedua yang kita akan jadikan sebagai percontohan budidaya cabe secara organik. Kami ingin membuktikan kepada masyarakat bahwa tanpa menggunakan bahan kimia kita bisa melakukan produksi pertanian dengan baik dengan tetap menjaga kuantitas dan kualitas produksi," tutupnya.

Penyuluh Pertanian Desa Temmapaduae Marwanti, SP menjelaskan bahwa kolaborasi antara alumni fasilitator tanaman organik dengan Penyuluh Pertanian sangat bermanfaat. 
"Setelah melakukan percontohan budidaya cabe organik di kelompok tani Lamaloang, kami semakin yakin bahwa budidaya secara organik tetap bisa meningkatkan produksi. Oleh karena itu kami semakin termotivasi untuk membuka percontohan budidaya organik di tempat lain. Kami berharap, kedepan Kabupaten Maros bisa menjadi sentra produksi pangan organik di provinsi Sulawesi Selatan," tutur Marwanti.

Apa yang dilakukan oleh Penyuluh Pertanian Kabupaten Maros dan alumni pelatihan fasilitator tanaman organik sejalan dengan arahan Kepala BPPSDMP Kementerian Pertanian Prof. Dr. Dedi Nursyamsi. Dalam beberapa kesempatan, Dedi menjelaskan bahwa seluruh Insan pertanian harus all Out dalam membangun pertanian di Republik Indonesia. "kita semua harus selalu all out  dalam membangun pertanian demi keamanan pangan 267 juta penduduk Indonesia," jelas Dedi.

Penulis : Jamaluddin Al Afgani

Manfaatkan Lahan Tidur, PPL Kab.Maros Berkolaborasi Alumni Faston Kembangkan Cabe Organik



Maros (Sulsel), Sigapnews.com, -Lahan merupakan bagian dari bentang alam (landscape) yang mempunyai sifat keruangan (spatial) dan merupakan lokasi aktivitas manusia. Fenomena kebutuhan lahan akan cenderung terus meningkat sejalan dengan adanya perkembangan pertumbuhan penduduk. Sementara itu lahan ditinjau dari ketersediaannya dalam arti luasan terhadap batas administratif lahan bersifat terbatas. Lahan bersifat tetap dengan nilai ekonomis yang cenderung meningkat, khususnya di perkotaan, sehingga lahan tidak hanya sebagai obyek yang dimanfaatkan tetapi juga sebagai obyek yang diam untuk kepentingan investasi.

Untuk mendongkrak laju peningkatan produksi pangan, khususnya untuk semua komoditas strategis, harus diupayakan pemanfaatan lahan tidur. Lahan tidur merupakan lahan pertanian yang sudah tidak digunakan selama lebih dari dua tahun.

Salah satu inisiator dalam memanfaatkan lahan tidur untuk peningkatan produksi pangan di Kab. Maros adalah Haji Baharuddin Syam. Alumni Pelatihan Fasilitator Organik Tanaman ini bekerja sama dengan Penyuluh Pertanian, Marwanti, SP memotivasi Pemuda Tani untuk memanfaatkan lahan tidur menjadi lahan produktif.

Menurut Haji Bahar, dia telah melakukan uji coba penanaman cabe organik pada lahan tidur di lokasi kelompok tani Lamaloang di Kecamatan Maros Baru.

"Kami sudah melakukan penanaman cabe dengan cara organik di Kelompok Tani Lamaloang, Alhamdulillah cabenya saat ini sudah berbuah dan seluruh input produksi yang digunakan adalah full organik, sekalipun baru tahap awal, perkembangan cabe tersebut menunjukkan hal yang sangat positif," jelas Haji Bahar.

"Setiap hari kami terus bergerak mendatangi petani memberikan informasi terkait keuntungan melakukan budidaya secara organik, perlahan-lahan sudah banyak petani yang mulai beralih dari pola budidaya konvensional ke pola budidaya organik. Hal ini karena mereka mulai menyadari bahwa pertanian organik sangat menguntungkan," lanjutnya.

"Hari ini kita sedang melakukan pembersihan lahan bersama kelompok Pemuda Tani di desa Temmapaduae, Kec. Maros Baru. Ini adalah lokasi kedua yang kita akan jadikan sebagai percontohan budidaya cabe secara organik. Kami ingin membuktikan kepada masyarakat bahwa tanpa menggunakan bahan kimia kita bisa melakukan produksi pertanian dengan baik dengan tetap menjaga kuantitas dan kualitas produksi," Jelasnya.Minggu (26/7/2020).

Penyuluh Pertanian Desa Temmapaduae Marwanti, SP menjelaskan bahwa kolaborasi antara alumni fasilitator tanaman organik dengan Penyuluh Pertanian sangat bermanfaat. 
"Setelah melakukan percontohan budidaya cabe organik di kelompok tani Lamaloang, kami semakin yakin bahwa budidaya secara organik tetap bisa meningkatkan produksi. Oleh karena itu kami semakin termotivasi untuk membuka percontohan budidaya organik di tempat lain. Kami berharap, kedepan Kabupaten Maros bisa menjadi sentra produksi pangan organik di provinsi Sulawesi Selatan," tutur Marwanti.

Apa yang dilakukan oleh Penyuluh Pertanian Kabupaten Maros dan alumni pelatihan fasilitator tanaman organik sejalan dengan arahan Kepala BPPSDMP Kementerian Pertanian Prof. Dr. Dedi Nursyamsi. Dalam beberapa kesempatan, Dedi menjelaskan bahwa seluruh Insan pertanian harus all Out dalam membangun pertanian di Republik Indonesia. "kita semua harus selalu all out  dalam membangun pertanian demi keamanan pangan 267 juta penduduk Indonesia," jelas Dedi.

Penulis : Jamaluddin Al Afgani

Minggu, 07 Juni 2020

Ketua PMI Sulsel Lepas Armada Penyemprotan Massal Untuk Wilayah Maros



Sigapnews.com, Gowa (Sulsel) - Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Sulsel yang juga Bupati Gowa, Adnan Purichta Ichsan melepas armada penyemprotan disinfektan massal untuk wilayah Kabupaten Maros. Pelepasan ini berlangsung di Lapangan Upacara Kantor Bupati Maros, Minggu (7/6).

Dikesempatan ini, Adnan mengatakan bahwa penyemprotan ini untuk mendukung pemerintah guna memutus mata rantai penularan covid-19 yang telah berlangsung selama kurang lebih tiga bulan yang bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi seluruh dunia telah merasakan dampaknya.

"Ada dua lokasi yang menjadi sasaran kita, yakni tempat-tempat ibadah yang kemarin telah dibuka untuk beribadah dan hari ini kita akan menyasar perkantoran," kata Adnan.

Tempat-tempat ibadah menjadi awal target kita dalam penyemprotan hal ini disebabkan karena pada hari Jum'at kemarin di Sulsel semua masjid-masjid sudah diperbolehkan digunakan untuk beribadah. 

"Disinilah peran PMI untuk mensterilkan tempat-tempat ibadah tersebut sebelum aktif digunakan oleh masyarakat untuk beribadah," ujarnya.

Sementara penyemprotan hari kedua target kita adalah kantor-kantor pemerintah karena kita tahu bersama sesuai edaran menteri PAN RB tanggal 8 Juni seluruh ASN akan kembali normal. 

"Hal inilah sehingga sebelum kantor-kantor tersebut memberikan pelayanan kepada masyarakat, maka penting bagi kita untuk mensterilkan agartidak terjadi cluster-cluster baru dalam penyebaran virus Covid-19 ini.

Tak hanya itu saja, ia juga mengajak semua yang hadir dalam apel hari ini untuk bisa berkontribusi berbuat yang terbaik untuk daerah kita, untuk menolong sesama dan saudara-saudara kita serta orang-orang yang disekitar. 

"Saya mengajak kita semuanya, bukan hanya pada kegiatan penyemprotan ini saja, tetapi mari kita terus tak henti-hentinya mengedukasi masyarakat untuk tetap mengikuti himbauan pemerintah yaitu dengan memakai masker, jaga jarak, cuci tangan dan tidak berkontak fisik atau bersalaman karena hanya dengan cara ini InsyaAllah kita mampu memutus penularan mata rantai Covid-19 di Sulsel khususnya di Kabupaten Maros," harapnya

Sekadar diketahui, saat ini Sulawesi Selatan berada di urutan keempat se-Indonesia berkaitan dengan penularan Covid-19. 

"Saat ini posisi Sulsel berada di atas Jawah Tengah yang jumlah penduduknya bekisar 32 juta jiwa, sementara jumlah penduduk Sulsel hanya 8,8 juta tetapi angka positif kita lebih besar. Olehnya itu dibutuhkan kerjasama kita semua guna menekan jumlah penyebaran Covid-19 di Sulsel," ungkap Ketua PMI Sulsel. (VH)

Sabtu, 23 Mei 2020

Panen Padi Dengan Power Reaper Sangat Membantu Petani Panen Dipersawahan Kontur Pegunungan



Sigapnews.com, Maros (Sulsel) Panen padi yang berlangsung saat bulan puasa merupakan tantangan tersendiri bagi para petani utamanya yang berada di tengah sawah saat cuaca terik sambil menahan dahaga dan lapar.

Untungnya hal ini dapat sedikit teratasi dengan hadirnya teknologi mekanisasi di bidang pertanian yang meringankan kerja petani.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan, “mekanisasi pertanian bertujuan untuk mewujudkan pertanian maju, mandiri dan modern.

Dengan alsintan, proses pertanian bisa dilakukan dengan cepat dan efisien”.

Dengan program utama Kementerian Pertanian saat ini yaitu Komando Strategis Pembangunan Nasional (Kostra Tani) yang mendorong peran serta BPP di tingkat kecamatan akan mengantarkan pada tujuan pertanian yang maju, mandiri, dan modern.

“Saat ini Kementerian Pertanian bertranformasi dari pertanian tradisional menjadi pertanian modern dan Era Industri 4.0. ciri ciri pertanian modern terlihat dari pelaku usaha pertanian dalam penggunaan teknologi informasi, internet dan juga penggunaan alat dan mesin pertanian”. Terang Dedi Nursyamsi dalam mengisi agenda lain.

Jajaran pemerintah dan petani Kabupaten Maros dalam hal ini Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP Kab. Maros) merespon kebijakan Mentan dengan menyiapkan bantuan alat panen padi power reaper yang sangat membantu petani panen di persawahan dengan kontur pegunungan.

Berbeda dengan alat panen combine harvester  berukuran besar untuk sawah yang datar, power reaper berukuran kecil seperti traktor roda dua dan mudah dibawa ke lokasi persawahan yang berada di ketinggian.

Tepatnya di Desa Bonto Manurung Kecamatan Tompobulu, kelompok tani Baru yang didampingi penyuluhnya Muhlis, A.Md.P yang sampai saat ini tetap panen padi dan diperkirakan akan selesai saat selesai lebaran.

Kelompok tani baru memanen padi mereka dengan jenis varietas Cigeulis, Ciherang, dan Mekongga seluas 1,8 Ha dan potensi panen mencapai 32 Ha.

Produktivitasnya sekitar 5,2 ton/Ha setelah dihitung dengan metode ubinan dan harga jualnya berkisar Rp 4.000 – Rp. 4.300/GKP.

Tidak lupa disaat pandemi Covid-19 Muhlis menghimbau para petani agar menerapkan physical distancing saat panen untuk menjaga kesehatan begitupun di himbau berhati-hati saat membawa gabah hasil panen dikarenakan jalan yang menanjak dan becek karena hujan.

Ia juga menyatakan bahwa saat ini harga jual gabah/beras relatif bagus. (BBPP-BK).

Minggu, 17 Mei 2020

Mentan Genjot Percepatan Tanam Padi Di Maros, Ini Harapannya



Sigapnews.com, Maros (Sulsel) - Menteri Pertanian (Mentan) Republik Indonesia Syahrul Yasin Limpo (SYL), melakukan penanaman padi bersama petani Maros, Minggu, (17/05/2020).

Penanaman padi yang dilakukan langsung menteri pertanian, dalam rangka program percepatan penanaman padi yang dicetuskan Kementerian Pertanian RI.

Usai melakukan penanaman padi, mantan Gubernur Sulsel dua periode menjelaskan, selain turun langsung melakukan penamanan, kedatangannya langsung bertatap muka dengan petani di Maros yakni untuk memastikan ketersediaan pangan serta kesiapan pangan di seluruh Indonesia, dalam menghadapi masa COVID-19 dan masa kekeringan yang tidak lama lagi.

"Kami ingin semuanya harus siap menghadapi dinamika masa COVID-19 dan termasuk masa kekeringan. Maka hari ini kami datang untuk memastikan ketersediaan pangan dasar kita, khususnya beras. Bahan ini harus terus tersedia selama musim kering," jelasnya.

Dia mengatakan, pihaknya melihat langsung di Sulsel, khususnya di Kabupaten Maros, pemerintah setempat dan kelompok tani bersungguh-sungguh melakukan percepatan penanaman.

"Kita sudah selesai musim tanam pertama. Dan kita akan segera masuk pada musim kering. Tapi masih ada sisa hujan di bulan Mei menuju Juni, yang dimamanfaatkan orang Sulsel dengan sangat baik. Dan ini merupakan langkah yang baik yang perlu diapresiasi dengan baik," jelasnya.

Dalam kondisi tersebut, Syahrul berharap, 55,6 juta hektar lahan persawahan mampu ditanami. Menurutnya, jika ini bisa menghasilkan dengan baik, maka kemampuan hasil pertanian petani jika dikali 7 ton itu sangat besar untuk pangan.

"Sehingga akan berjalan dengan baik, tidak ada bencana dan malapetaka, insyaallah ini akan tercapai maksimal," terangnya.

Secara khusus, Syahrul berharap, kabupaten Maros bisa menjadi lumbung pangan terbaik. Apalagi kata dia, kabupaten Maros memiliki balai penelitian, dan petani di Maros sudah terbiasa dengan IP 200, IP300.

"Tadi kami sudah ada kesepakatan antaran Wakil Bupati dan Dinas Provinsi untuk mempercepat IP300-nya. IP300 ini tahan 3 kali. Jadi kita akan menggenjot, penanaman padi IP300 sebanyak 3000 hektar," bebernya. (Red/Al-Az).

Minggu, 10 Mei 2020

H.Bahar Alumni Faston, Motivasi Petani Manfaatkan Lahan Tidur Berbudidaya Pertanian Organik



Sigapnews.com, Maros (Sulsel) - Pertanian adalah salah satu bidang yang dituntut harus tetap produktif di tengah mewabahnya covid 19. Pertanian harus terus berjalan, demikianlah ungkapan Menteri Pertanian yang sering digaungkan dalam memotivasi seluruh insan pertanian di negeri ini.

"Walau dalam kondisi pandemi covid-19, don't stop, maju terus, pangan harus tersedia dan rakyat tidak boleh bermasalah pangan. Setelah panen, segera lakukan percepatan tanam, tidak ada lahan yang menganggur selama satu bulan," kata Mentan Syahrul

Sejalan dengan arahan Menteri Pertanian, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian (Kementan) Prof. Dedi Nursyamsi menganjurkan agar petani senantiasa membuat secara mandiri input produksinya, seperti pupuk organik padat, pupuk organik cair dan pestisida nabati. Hal ini karena dampak positif pertanian organik dalam jangka panjang sangat menguntungkan.

"Pertanian organik memiliki tiga pilar utama, yaitu (1) lingkungan, (2) sosial termasuk didalamnya masalah kesehatan dan (3) ekonomi. Lingkungan merupakan faktor utama dalam bertani organik, karena bertani organik dianggap bertani secara ramah lingkungan dengan menggunakan bahan-bahan alami dan tidak menggunakan bahan kimia sintetis, khususnya pupuk dan pestisida, sehingga tidak menimbulkan pencemaran lingkungan," tutur Dedi.

Sejalan dengan arahan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Baharuddin Syam, yang biasa dipanggil H. Bahar yang merupakan salah satu alumni sertifikasi fasilitator organik tanaman yang dilaksanakan di Tempat Uji Kompetensi (TUK) BBPP Batangkaluku yabg terus melakukan pembinaan kepada petani. Sebelum mengikuti sertifikasi profesi, H. Bahar sudah mengikuti lebih awal Pelatihan Fasilitator Organik Tanaman (Faston) yang dilaksanakan oleh P4S Alam Hijau Lestari.

Menurut H. Bahar sejak mengikuti pelatihan Fasilitator organik tanaman, dia semakin termotivasi untuk membangun kesadaran petani agar bertani secara organik. "Saat ini fokus kami adalah memfasilitasi petani sebanyak mungkin agar melakukan cara budidaya yang sehat," jelas H. Bahar.


Meskipun wabah covid-19 sedang melanda negeri ini, H. Bahar tetap melakukan pembinaan ke petani. Seperti saat ditemui desa Moncongloe, Maros (10/05/2020), H. Bahar sedang mendampingi petani melakukan pengolahan lahan.

"Lahan ini kami persiapkan untuk budidaya cabe secara organik. Kami suda mengedukasi petani agar bisa membuat sendiri input teknologi budidaya, seperti membuat arang sekam, memanfaatkan limbah pertanian menjadi pupuk organik padat dan pupuk organik cair," tutur H. Bahar.

Kami selalu mencoba mencari teknologi organik yang tepat guna, misalnya mencarikan informasi pupuk organik cair yang berkualitas, hal ini agar produksi tetap terjaga dan lambat laun petani mulai menghilangkan ketergantungannya dengan bahan kimia, jelas H. Bahar.

"Bagi kami, pertanian organik adalah pertanian jangka panjang yang memiliki manfaat sangat besar, karena selain menyuburkan tanah dalam jangka panjang, hasil produksi akan memiliki kandungan residu kimia yang rendah sehingga orang-orang yang mengkonsumsinya juga sehat.Meskipun wabah covid 19 saat ini sedang melanda, kami tetap membina petani", ungkapnya.

Saat ini H. Bahar dan beberapa alumni fasilitator organik tanaman sedang fokus memanfaatkan lahan tidur untuk diolah menjadi lahan organik. Umumnya mereka sudah merasakan sendiri manfaat melakukan budidaya secara organik.

"Harapan kami, ke depan pemerintah memberikan porsi yang besar terhadap pertanian organik sekaligus memberikan kepercayaan bahwa pertanian organik bisa menjadi solusi pembangunan pertanian masa depan Indonesia," tutupnya.

Penulis : Jamaluddin Al Afgani

Didampingi Penyuluh, Petani Di Maros Tetap Konsisten Jaga Stock Pangan Ditengah Pandemi Covid-19



Sigapnews.com, Maros (Sulsel) - Menteri Petanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menegaskan kepada seluruh insan pertanian bahwa di tengah pandemi covid-19, petani dan penyuluh harus tetap menyediakan kebutuhan pangan sehingga tidak terjadi krisis pangan.

"Walau dalam kondisi pandemi covid-19, don't stop, maju terus, pangan harus tersedia dan rakyat tidak boleh bermasalah pangan. Setelah panen, segera lakukan percepatan tanam, tidak ada lahan yang menganggur selama satu bulan," kata Mentan Syahrul

Tak hanya itu, Mentan juga minta pejabat daerah beserta jajarannya harus memastikan ketersediaan pangan di daerah masing-masing. Hal ini dilakukan utuk memastikan ketersediaan pangan nasional aman dan terkendali dengan baik.

Menyikapi arahan Mentan, dalam keadaan berpuasa dan ancaman wabah covid-19 tidak membuat petani patah semangat, seperti yang dilakukan petani di Desa Salenrang Kec. Bontoa,  Kab. Maros. Petani menanam padi varietas Sentani di lahan seluas 20 are milik  bapak Syahrir yang juga menjabat sebagai Kepala Desa Salenrang. 


Menurut Syahrir, "Pengolahan lahan dan penanaman dilakukan lebih awal karena ketersediaan air cukup. Alhamdulillah benih sudah layak untuk ditanam dan  kami berharap mudah-mudahan sampai memasuki panen tidak terjadi kekurangan air."

Dalam melaksanakan pengolahan sawah sekaligus tanam secara gotong-royong, petani didampingi penyuluh swadaya, Ibu Suri.

Suri, perempuan yang berprofesi sebagai Fasilitator Organik Tanaman, mengungkapkan, bahwa kedatangannya membersamai petani saat tanam padi, selain memberikan motivasi tentang pentingnya terus menanam di masa pandemi Covid-19, juga memperkenalkan manfaat bertani secara organik.


"Setiap saat kami terus mendampingi petani agar bisa melaksanakan budidaya pertanian dengan baik, khususnya mengingatkan mereka agar mengolah limbah  pertanian menjadi pupuk organik, memanfaatkan teknologi tepat guna sehingga produksi meningkat dan tanaman tetap sehat," ungkap Suri.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Dedi Nursyamsi berpesan agar penyuluh dan petani tetap bekerja sesuai protokol kesehatan pencegahan covid-19 yaitu rajin mencuci tangan, menjaga jarak, mengurangi kerumunan orang, dan berjemur pagi hari sambil bekerja di lahan pertanian.  
  
“Masyarakat Indonesia semua butuh pangan. Dari pangan yang sehat dan bergizi maka akan membuat imunitas tubuh yang kuat, otomatis membuat bangsa kita sehat. Dan ketersediaan pangan dan olahan yang sehat itu semua berkat kalian sebagai pahlawan pertanian, sebagai pejuang dalam melawan covid-19 ini. Dan ingat tetap mengikuti protokol pencegahan covid-19, jaga jarak aman, pakai masker, dan selalu menjaga kebersihan tangan, serta kesehatan," ucap Dedi.

Penulis : Jamaluddin Al Afgani
Editor : Risna/Reski

Senin, 04 Mei 2020

Bersama Penyuluh, Petani Dipastikan Mendapatkan Harga Yang Pantas Untuk Hasil Pertaniannya


Sigapnews.com, Maros (Sulsel) - Bulan Ramadhan tahun ini sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, disebankan adanya wabah covid-19 yang mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan agar bekerja dari rumah kecuali pekerjaan tertentu yang dibolehkan dilakukan diluar, namun dilaksanakan dengan protokol kesehatan yang telah ditetapkan. Salah satu yang harus tetap bekerja diluar adalah para petani dan penyuluh pertanian.

Dalam satu kesempatan Mentan Syahrul Yasil Limpo (SYL) menegaskan, ”Kita takut pada wabah corona, tapi don’t stop, maju terus. Pangan harus tersedia dan rakyat tidak boleh bermasalah dengan pangan. Setelah panen, segera menanam kembali. Jangan ada lahan yang menganggur.”

Jajaran pemerintah dan petani Kabupaten Maros merespon kebijakan Mentan dengan tetap melaksanakan panen, tepatnya di Desa Bonto Somba Kecamatan Tompobulu, kelompok tani Usaha Baru yang didampingi penyuluhnya Muhlis, A.Md.P sampai saat ini tetap panen padi. Mereka setiap hari memanen sawah rata-rata seluas 1,25 Ha dan potensi panen mencapai 28 Ha. Varietas yang dipanen yaitu Ciliwung dan Cigeulis. Produktivitasnya sekitar 5,4 ton/Ha setelah dihitung dengan metode ubinan dan harga jualnya Rp 4.000/GKP.

Muhlis menghimbau para petani agar menerapkan physical distancing saat panen untuk menjaga kesehatan. Ia juga menyatakan bahwa saat ini harga jual gabah/beras relatif bagus, ungkapnya, Selasa (5/5/2020).

Di lain kesempatan Kepala Badan SDM Pertanian Dedi Nursyamsi mengatakan bahwa “Akan memaksimalkan peran dari Kostratani dalam menstabilkan harga. Setiap penyuluh di BPP harus mampu memfasilitasi petani binaannya mendapatkan harga yang pantas untuk semua komoditas yang dibudidayakan".(IQB) BBPP-BK.

Sabtu, 02 Mei 2020

Armiati Abbas Penyuluh Pertanian BPP Maros Baru, Dampingi Petani Lakukan Persemaian Padi Varietas CL 220



Sigapnews.com, Maros (Sulsel) - Penyuluh pertanian merupakan ujung tombak pembangunan pertanian, yang dapat diartikan bahwa salah satu keberhasilan pertanian berada di tangan penyuluh. Hal ini karena penyuluh dapat berinteraksi langsung dengan petani sehingga program-program pertanian dapat langsung diterapkan atau disampaikan kepada petani. 

Meskipun pada masa pandemi virus covid-19 seperti saat ini,  tidak menyurutkan semangat
penyuluh untuk menunaikan tugas pokoknya. Sebagaimana telah dinyatakan oleh Menteri Pertanian Bapak Syahrul Yasin Limpo (SYL) bahwa sektor pertanian tidak boleh berhenti dalam kondisi apapun, tetap produktif ditengah pandemi Covid-19. 

Sejalan dengan Kepala Badan BPPSDMP Dedi Nuryamsi, menyatakan bahwa para penyuluh pertanian harus aktif dan produktif mendampingi para petani.

Salah satu kegiatan penyuluh adalah mendampingi dan mengawal kegiatan petani, termasuk memonitoring areal persemaian padi yang telah ditanam. 

Menurut Armiati Abbas, salah satu penyuluh pertanian yang bertugas di BPP Maros Baru mengatakan  bahwa selaku penyuluh pertanian, kegiatan monitoring bertujuan untuk memantau dan melihat secara dekat perkembangan dan pertumbuhan padi serta untuk tukar pikiran dan informasi dengan petani. 


Dalam kunjungan monitoring di Desa Mattirotasi, Kecamatan Maros Baru, Kabupaten Maros, diketahui bahwa salah satu petani H. Marwah, Ketua Kelompok Tani Barugayya melakukan persemaian tanaman padi  varietas CL 220. 

“Sepengetahuan saya, varietas ini baru pertama kali ditanam di wilayah Maros,” jelas Armiati. Ahad (3/5/2020).

Dari hasil pengamatan diketahui bahwa umur persemaian tanaman padi sudah 17 hari dan pertumbuhan tanaman padi tersebut cukup subur dan sehat tanpa ada hama dan penyakit yang menyerang persemaian tersebut. Dan perkiraan luas lahan yang akan ditanami 3 hektar.

Menurut pengakuan H. Marwah bahwa dia  memperoleh varietas padi ini dari temannya yang berasal Provinsi Aceh dan mencoba menanam padi varietas baru dengan harapan hasil produksinya maksimal dan cocok untuk ditanam di wilayah maros. 

"Dari informasi yabg kami peroleh diketahui bahwa Varietas CL 220 memiliki Umur 85-90 hst dengan jumlah Anakan 28-40 dan Biji per malai 250. Bukit panjang lonjong, Nasi pulen dan Tinggi 90 cm serta daun bendera tegak dan sangat Cocok di lahan tadah hujan dan irigasi. Sedangkan Potensi produksi antara 9-12 ton per ha. Inilah yang membuat petani tertarik menanam varietas tersebut," ujar Marwah.

Penulis : Ferial dan Jamal
Sumber : Armiati Abbas, SP Penyuluh BPP Maros Baru

Minggu, 26 April 2020

Alumni Sertifikasi Fasilitator Organik Maros Sulap Lahan Tidur Jadi Lahan Cabai Organik



Sigapnews.com, Maros (Sulsel) - Tanaman cabai merupakan salah satu komoditas hortikultura yang mendapatkan prioritas pengembangan dalam program Kementerian Pertanian.

Komoditas cabai merupakan komoditas sayuran tidak bersubtitusi dan tergolong komoditas bernilai ekonomi tinggi.

Salah satu cara untuk menghasilkan cabai yang berkualitas tinggi adalah melalui budidaya secara organik. 

Budidaya organik merupakan cara budidaya yang tidak menggunakan input produksi bahan kimia sehingga hasil yang diperoleh tidak memiliki residu kimia dan lebih sehat untuk dikonsumsi. 

Berbagai cara dilakukan agar budidaya secara organik bisa dilakukan secara sadar oleh masyarakat dan salah satunya melalui program 1000 Desa Organik.

Pada tahun 2018, Dirjen Tanaman Hortikultura
ditugaskan untuk mengatur pelaksanaan
program Pengembangan 1.000 Desa
Pertanian Organik yang berbasis hortikultura
di 250 desa yang tersebar di wilayah Indonesia.

Dengan kinerja yang baik dari semua
pelaksana, baik Dinas Pertanian Provinsi,
Dinas Pertanian Kabupaten/Kota,
fasilitator organik, dan kelompok
tani / gabungan kelompok tani, diharapkan
tujuan dari program Pengembangan 1.000
Desa Pertanian organik berbasis
hortikultura dapat tercapai.

Tujuan dari Program
Pengembangan 1.000 Desa Pertanian
Organik berbasis hortikultura ialah: (1)
Meningkatnya budaya penerapan sistem
pertanian organik berbasis hortikultura di
250 desa pengembangan organik, dan (2) Meningkatnya ketersediaan komoditas hortikultura organik secara berkesinambungan.

Kesadaran pengembangan pertanian organik tidak selamanya harus dengan fasilitasi pembiayaan dari pemerintah. Salah satu contohnya adalah seperti yang dilakukan oleh alumni Sertifikasi Fasilitator organik tanaman (FASTON) H. Baharuddin Syam beserta istri, Hj. Sari Banong. Sejak mengikuti sertifikasi FASTON, Keduanya sangat antusias  mensosialisasikan budidaya secara organik.


Ditemui di lokasi penanaman perdana Cabai Organik di Poktan  Lamaloang, Desa Temappaduae, Dusun Takkalasi, Kec. Marusu, Kab. Maros, Alumni Sertifikasi Fasilitator Organik, H. Baharuddin Syam menjelaskan bahwa awalnya di lokasi pertanaman adalah lahan tidur yang sudah lama tidak dimanfaatkan.

"Kami koordinasikan dengan kelompok tani, penyuluh dan Pemerintah Desa, Alhamdulillah lahan ini bisa dimanfaatkan. Setelah semua sepakat, kami minta arahan ke Pak Ustd Jamal (widyaiswara-red) sebagai pembimbing kami dan Alhamdulillah hari ini kita bisa melihat hasilnya dengan melakukan penanaman perdana," tutur H. Bahar.

Berdasarkan pantauan di lapangan, Tim alumni Faston membuat percontohan tanaman organik di lahan seluas 0,4 ha, sudah dibuat bedengan yang dipasangi mulsa plastik. Selain itu, setiap 2 bedengan terpasang berjejer springkel (media penyiram) setinggi 2 meter. 

"Kami sengaja buat permanen seperti ini agar bisa tahan lama. Kami ingin buktikan bahwa dengan sentuhan teknologi, kita bisa bertani tanpa harus capek, bisa menanam sekali dan panen berkali-kali. Target kami, dengan teknologi organik bisa panen minimal selama 1 tahun," tutur H. Bahar, Ahad (26/4).

Sementara itu, penyuluh pertanian Desa Temappaduae, Marwanti, A.Md yang hadir dalam kegiatan menyatakan bahwa masyarakat sangat berterimakasih dengan kegiatan para fasilitator. "Luar biasa, awalnya kami tidak menyangka bahwa akan seperti ini, kami bahkan banyak belajar pada para fasilitator, semangatnya luar biasa," ungkap Marwanti.

Kepala Desa Temappaduae menjelaskan bahwa dia kagum dengan apa yang sudah dilakukan oleh tim Fasilitator dan Penyuluh yang mendampingi masyarakat berbudidaya secara organik.


"Kami tidak menyangka bahwa di lokasi yang agak terpencil ini ada percontohan yang luar biasa. Di desa kami masih banyak lahan tidur seperti ini, kami siap memfasilitasi kepada pemilik lahan agar bisa diolah sebagai percontohan tanaman organik. Mudah-mudahan bisa menjadi penyumbang produk organik di Provinsi Sulawesi Selatan," ujar Kepala DesaTemappaduae.

Aktivitas penyuluh, fasilitator dan petani menunjukkan aktivitas pertanian terus berlanjut. Pertanian sebagai gerbang terdepan penyedia stok pangan nasional tetap semangat berproduksi.

Seperti yang selalu disampaikan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL), pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang tidak boleh tertunda apalagi berhenti. Begitu pula kegiatan olah tanah dan olah tanam hingga panen oleh petani harus tetap berlangsung di tengah pandemi.

Hal serupa ditegaskan oleh Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Dedi Nursyamsi bahwa masalah Pangan adalah masalah yang sangat utama, hidup matinya suatu bangsa ada di pangan. 

"Saat ini pejuang melawan Covid-19 bukan hanya dokter, perawat dan tenaga medis tapi juga seluruh insan pertanian yang bahu membahu menyediakan pangan bagi seluruh masyarakat. Pertanian tidak boleh berhenti apapun yang terjadi,“ ujar Dedi. (JML) BBPP-BK.

Kamis, 16 April 2020

Penyuluh Pertanian Dampingi Petani Panen Ditengah Covid 19


Sigapnews.com, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyerukan kepada para Penyuluh Pertanian terus bekerja menjaga aktivitas pembangunan pertanian agar tetap bergerak. Syahrul menyerukan hal tersebut untuk memastikan ketersediaan pasokan pangan nasional aman dan terkendali.

Himbauan ini sesuai dengan instruksi Presiden Joko Widodo untuk memprioritaskan kebutuhan bahan pokok masyarakat.

Seruan dari Syahrul ini diteruskan oleh Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian Dedi Nursyamsi yang mengeluarkan himbauan agar para Penyuluh Pertanian tetap beraktivitas mendampingi petani.

“Sektor yang lain mungkin terhenti dengan adanya Covid 19, namun sektor pangan harus tetap berjalan, karena seluruh rakyat Indonesia membutuhkan pangan,“ tutur Dedi pada hari Jumat (3/4) melalui telekonferensi Agricultural War Room (AWR).

AWR merupakan cara komunikasi yang efektif di tengah pendemi virus covid-19 antara Kementerian Pertanian dengan para insan pertanian Indonesia, yaitu petani, Penyuluh Pertanian dan pekerja sektor pertanian lainnya.

Himbauan inilah yang memotivasi para Penyuluh Pertanian se-Indonesia, termasuk Penyuluh Pertanian yang bertugas di BPP Maros Baru.


Mereka tetap melakukan pendampingan kepada para petani, salahsatunya terhadap Kelompok Tani Paranuang’ta di Kelurahan Baji Pamai, Kecamatan Maros Baru, Kabupaten Maros, Propinsi Sulawesi Selatan yang melakukan pemanenan padi.

“Kami menanam padi varietas Bestari” ujar Dg. Kamaruddin, Ketua Poktan Paranuang’ta, Kamis (16/4).

Menurut penjelasan dari Armiati Abbas, SP, salah satu Penyuluh Pertanian BPP Maros Baru, "penggunaan teknologi budidaya padi yang diterapkan oleh Poktan Paranuang’ta adalah dengan menanam varietas unggul, melakukan pemupukan secara tepat, melakukan pengairan sesuai kebutuhan tanaman.

“Di Poktan Paranuang’ta menerapkan jarak tanam 30 x 30cm”, kata Armiati.

Berdasarkan data hasil ubinan yang dilakukan oleh Armiati beserta rekan-rekan Penyuluh Pertanian BPP Maros Baru, estimasi produktivitas Poktan Paranuang’ta adalah 8,7 ton/Ha. Pemanenan padi menggunakan combine harvester.

Menurut Dg Kamaruddin, penggunaan combine harvester dapat menghemat waktu, tenaga dan biaya serta mengurangi potensi kehilangan hasil padi.

Menurut Armiati dan Dg. Kamaruddin, penggunaan combine harvester pada panen tahun ini juga untuk memperkecil kemungkinan penyebaran virus covid-19 dikarenakan interaksi orang di lahan dapat dibatasi.

Hal ini sesuai dengan ajuran dari Pak Mentan yang menganjurkan petani menggunakan alsintan untuk meminimalkan interaksi petani dengan banyak orang ketika bekerja di lahan pada saat pandemi covid-19.

“Saya cuma pesan kita tetap waspada dengan adanya wabah covid1-9, dengan cara selalu menjaga kebersihan. Dan kita lawan dengan lebih giat lagi bercocok tanam. Karena bekerja di lahan, badan akan terkena sinar matahari langsung, sehingga imun tubuh meningkat dan bisa terhindar dari wabah yang mematikan ini.

Tetap aja ke sawah pak, nanti saya dampingiki”, ujar Armiati.

“Yang paling utama lebih mendekatkan diri kepada Tuhan”, tambahnya.
(Fe/ArA/RSN) BBPP-BK.

Rabu, 15 April 2020

Penyuluh dan Petani Kompak Produksi Hasil Panen Ditengah Covid 19


Sigapnews.com, Maros (Sulsel) - Hampir 2 bulan sejak kasus pertama positif covid-19 terjadi di Indonesia. Pada hari Senin tanggal 2 Maret 2020, Presiden Joko Widodo dan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengadakan konferensi pers untuk mengumumkan kejadian tersebut secara langsung. 

Pada konferensi pers tersebut, dijelaskan kronologi dua warga Kota Depok, Jawa Barat hingga terinfeksi virus corona. 

Sejak konferensi pers tersebut, sudah banyak peraturan dan himbauan pemerintah yang dikhususkan untuk mencegah penyebaran virus corona, diantaranya adalah himbauan untuk melakukan physical distancing, atau menjaga jarak ketika berinteraksi dengan orang lain di setiap aktifitas yang dilakukan oleh masyarakat. 

Himbauan tersebut juga menjadi dasar untuk sementara waktu melakukan aktivitas bekerja, belajar dan beribadah di dalam rumah. 

Sudah banyak kantor-kantor yang menerapkan kebijakan bekerja dari rumah (work from home / WFH) bagi para karyawannya.

Hal itu dilakukan untuk mengurangi kegiatan di luar rumah yang tidak penting, serta menghindari pengumpulan massa. 

Tapi kebijakan WFH dan physical distancing tidak dapat diterapkan secara penuh di bidang pertanian. 

Dengan para petani hanya menerapkan sebagian WFH dan physical distancing, sudah menimbulkan kekhawatiran masyarakat tentang isu menipisnya stok pangan. 

Apalagi bila para petani juga mengikuti WFH dan physical distancing secara penuh, maka stok pangan dunia akan habis. 

Untuk mengantisipasi kekhawatiran habisnya ketersediaan pangan, maka Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menghimbau para pejabat daerah untuk memperhatikan ketersediaan pangan yang ada di wilayahnya masing-masing. 

Syahrul berpendapat, walaupun dalam kondisi pandemi covid-19, pejabat daerah beserta jajarannya secara langsung harus memastikan ketersediaan pangan di daerahnya masing-masing. 

Hal ini dilakukan utuk memastikan ketersediaan pangan nasional aman dan terkendali dengan baik.

Himbauan Syahrul tersebut juga diperkuat oleh Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian Kementerian Pertanian Dedi Nursyamsi yang menganjurkan kepada para Penyuluh Pertanian untuk tetap bekerja mendampingi para petani. 

“Penyuluh Pertanian harus aktif dan produktif mendampingi petani agar proses budidaya di lahan sampai masa panen berjalan dengan baik. Jangan sampai ada (komoditas) pangan yang tertahan,” jelas Dedi.

Keinginan Syahrul dan himbauan Dedy tersebut dipenuhi oleh para Penyuluh Pertanian di BPP Kecamatan Maros Baru, Kabupaten Maros, Propinsi Sulawesi Selatan.


Para penyuluh tetap turun ke sawah untuk mendampingi para petani yang tergabung di Kelompok Tani Pakkamaseang untuk melakukan panen raya. 

Para Penyuluh tersebut melakukan ubinan untuk mengetahui perkiraan hasil panen di daerah tersebut.

“Kegiatan ubinan ini dilakukan untuk mengetahui secara pasti estimasi produktivitas komoditas padi yang dilakukan oleh Poktan Pakkamaseang di Kelurahan Baji Pamai,” ujar Armiati Abbas, SP salah satu Penyuluh Pertanian BPP Kec. Maros Baru. 

Berdasarkan hasil ubinan yang dilakukan, diketahui bahwa potensi produktivitas panen sebanyak 6,428 ton/ha. 

“Kami menanam padi varietas Inpari 32 dengan sistem tegel (25 x 25cm). Alhamdulillah kami tetap bisa panen dengan (hasil) bagus,” ujar Dg. Tombong, petani yang juga Ketua Poktan Pakkamaseang.

“Saat ini harga gabah kering panen Rp. 4.600 - Rp. 4.700 per kilogram, sedangkan harga beras antara Rp.9.200 - Rp. 9.300,” pungkas Dg. Tombong.(CeGeeS/ArA/JML) BBPP-BK.

Sabtu, 11 April 2020

Tim P4S Shafana Cakrawala Maros Gelar Penyemprotan Disinfektan dan Sosialisasi Pencegahan Covid 19


Sigapnews.com, Maros (Sulsel) - Tim Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S)
Shafana Cakrawala yang berada di kabupaten Maros melakukan penyemprotan Disinfektan ke tempat kritis seprti rumah ibadah, gereja dan PAUD, Selasa (7/4/2020).

Penyemprotan tersebut dilakukan dalam rangka memutus mata rantai Covid 19, selain itu juga dirinya ikut ambil bagian dalam melawan penyebaran Corona Virus Desease 19.

"Tim P4S melakukan kegiatan penyemprotan ini setidaknya P4S Shafana Cakrawala dapat berkontribusi dalam melawan Covid 19, ujar salah satu anggota tim.

Sebanyak tujuh Masjid, satu Gereja dan satu sekolah PAUD yang ada di Kacamatan Cenrana menjadi sasaran lokasi penyemprotan.

Selain penyemprotan Disinfektan, hal lain yang tak kalah penting di lakukan tim P4S adalah mengedukasi warga masyarakat utamanya yang berada di sekitar Pusat pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya Shafana Cakrawala dengan turun langsung ke masyarakat terutama ke kelompok-kelompok tani untuk memberikan edukasi kepada masyarakat agar jangan panik terhadap wabah covid-19.

Selain itu juga disampaiakan agar memperbaiki pola makan serta mengkonsumsi makanan yang bergizi yang di tanam oleh para anggota Kelompok Tani .

Kontribusi Tim P4S dengan mengedukasi warga dengan Pencegahan serta penyemprotan Disinfektan ini, sejalan dengan pesan Menteri Pertanian Bapak Syahrul Yasin Limpo beberapa waktu lalu, “Dalam kondisi pandemi Corona, Masyarakat harus bersatu dan saling menjaga situasi negara agar tetap kondusif.

Jika sebaran Covid 19 ini tidak di lawan secara bersama-sama akan membuat ekonomi menurun, sehingga hal itu membuat Tim P4S yang ada di kabupaten Maros ini semangat dengan melawan virus Corona ini sebab jika tidak di lakukan perlawan maka akan berimbas ke para petani yang merupakan ujung tombak pangan nasional.

Seperti yang di sampaikan Kementerian Pertanian bahwa harus di ingat, satu-satunya lapangan kerja yang tersedia adalah pertanian, maka janganlah kita lakukan lockdown atau isolasi, olehnya itu Tim P4S berupaya agar petani lancar dalam beraktifitas dan tidak locdown sehingga mereka ambil bagian dalam pencegahan Covid 19 apa lagi menjelang panen.

Kita akan menghadapi masa panen raya di seluruh Indonesia, tapi dalam situasi seperti ini hal tersebut tidak membuat masyarakat terutama petani kita menjadi panik, makanya tetap tenang, ujar Mentan pada setiap memberikan motivasi bagi para pahlawan pangan dalam naungan kementeriannya.

Dalam hal pandemi yang melanda dunia saat ini dan menjadi perbincangan disemua kalangan terutama para petani kita di pedesaan, maka P4S Shafana Cakrawala turut mengambil bagian dalam Melawan Covid 19 ini.

Dalam situasi pandemi Covid 19 meraka tak tinggal diam, P4S mengambil langkah dengan turun bersama Tim dan berbagai stakeholder untuk bersama-sama melawan Covid 19 terutama di Kabupaten Maros khususnya di sekitar P4S dan Kecamatan Cenrana.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa P4S merupakan bagian dari Kementrian Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), dimana P4S ini adalah salah satu ujung tombak dalam memperbaiki pertanian di Indonesia, khususnya di perdesaan.

Semoga pandemi ini segera berlalu dan kita segera berbenah untuk kebangkitan bangsa dari petani untuk Indonesia. (NN-Al Az) BBPP - BK.

Kamis, 09 April 2020

Klp Tani Binaan P4S Shafana Cakrawala Maros Manfaatkan Limbah Ternak Menjadi Biogas



Sigapnews.com, Maros (Sulsel) Salah satu anggota Kelompok Tani Binaan P4S Shafana Cakrawala Zainuddin kabupaten Maros Provunsi Sulawesi Selatan telah melakukan pengolahan limbah ternak menjadi biogas. 

Zainuddin yang kerap di sapa Bapak Ambo selaku pemilik biogas telah merasakan manfaat penggunaan biogas kurang lebih Lima tahun terakhir.

"Alhamdulillah sudah lima tahun saya merasakan manfaat biogas ini dan sampai saat ini belum ada kendala, katanya.

"Inilah manfaat mengolah limbah pertanian, meskipun ada anjuran tidak meninggalkan rumah karena covid 19 tetapi umumnya orang kalau gas habis pasti kita harus keluar rumah, tandas pak Ambo.

Dikatakannya "Berbeda dengan kami, meskipun bukan musim Corona jika gas habis tidak perlu keluar rumah cari gas karena cukup memanfaatkan limbah ternak, ungkapnya.

Menurutnya, banyak manfaat yang di rasakan dengan menggunakan biogas, selain mengurangi biaya untuk beli gas, juga dapat menjadi media penerang jika mati lampu sehingga tidak perlu ke warung untuk cari lilin. 


Lanjutnya menjelaskan bahwa , manfaat lain dari biogas, kandang sapi lebih bersih dan tidak bau dengan adanya Biogas tersebut, serta limbah biogasnya dimanfaatkan untuk menjadi pupuk, tukasnya.

Pupuk yang dihasilkan dalam bentuk padat dan cair yang bisa dimanfaatkan untuk tanaman, baik di sawah ataupun tanaman di halaman rumah yang berupa sayuran maupun bunga-bunga. 

Selain itu tanaman juga lebih sehat dan hasilnya juga menyehatkan manusia karena tidak menggunakan bahan kimia. 

"Alhamdulillah, tanaman sayuran dengan hasil pupuk kandang membuat badan jadi sehat karena mengurangi bahan kimia yang masuk ke dalam tubuh, lanjut pak Ambo yang meskipun diusianya yang sudah mencapai 72 tahun masih sehat bugar. 

Biogas ini dihasilkan dari hasil pemanfaatan limbah kotoran sapi  yang masih baru kemudian diencerkan dengan air dengan perbandingan 1:1, yang artinya 1 kg limbah kotoran padat diencerkan dengan air 1 liter.

Inilah limbah yang membawa berkah, tutur Pak Ambo diakhir obrolannya. *(JML) BBPP-BK*


#kementerian pertanian
#bppsdmp
#bbppbatangkaluku
#p4s
#pertaniancegahcovid19
#pertaniantidakberhenti

Begini Alasan Kelompok Tani di Maros Tetap Panen Padi di Tengah Covid 19


Sigapnews.com, Maros (Sulsel) - Pandemi corona virus disease (COVID-19) saat ini sedang melanda seluruh dunia. Jumlah korban terus bertambah karena belum diketahui secara jelas cara pencegahan maupun pengobatannya.

Salah satu cara pencegahan COVID-19 adalah dengan melakukan isolasi mandiri di dalam rumah.

Semua aktivitas, baik bekerja, belajar hingga beribadah, disarankan untuk dilakukan di dalam rumah.

Tapi hal ini menimbulkan pertanyaan penting. Bagaimana menjaga pasokan makanan bila semua orang harus beraktivitas di dalam rumah?.

Selain para petugas kesehatan yang berjuang dalam mengobati para pasien yang terinfeksi COVID-19, peran para pekerja sektor pertanian juga sangat penting dalam menjaga pasokan produksi pangan bagi masyarakat.

Bila produksi pangan tidak tercukupi, maka musibah lain akan melanda.

Di tengah musibah COVID-19, Kementerian Pertanian terus berupaya untuk menjaga pasokan produksi pertanian.

Hal tersebut dilakukan dengan menghimbau agar para petani tetap terus menanam, memelihara tanaman dan panen tepat waktu.

Terkait dengan kondisi saat ini, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementerian Pertanian, Prof Dedi Nursyamsi mengingatkan bahwa pelaku pertanian, penyuluh dan seluruh insan pertanian harus menjaga kesehatan, melakukan protokol pencegahan Covid 19 dengan menjaga jarak, menggunakan masker , tidak menyentuh muka baik mulut, hidung atau mata dan harus sering mencuci tangan dengan sabun.

Berdasarkan pantauan di lapangan, himbauan tersebut telah di laksanakan oleh Petani dan Penyuluh seperti di Kecamatan Maros Baru saat melaksanakan panen padi di Kelompok Tani Sipakatau,
Kelurahan Baji Pamai, Kecamatan Maros Baru, Kabupaten Maros, saat melakukan panen padi.

Poktan Sipakatau menanam padi varietas Ciliwung dengan menerapkan sistem Legowo 3:1. Berdasarkan data hasil ubinan yang dilakukan oleh Penyuluh Pertanian Armiati Abbas, SP di BPP Maros Baru, estimasi provitasnya adalah 6,2 ton/ha.

Selanjutnya di Kecamatan yang sama juga dilakukan panen oleh Kelompok Tani Tomarunang, Kelurahan Baju Bodoa.

Poktan Tomarunang memanen padi varietas Ciliwung dengan provitas  6 Ton/ha, Proses pemanenan didampingi langsung oleh penyuluh pertanian KelurahanBaju Bodoa , Fauzia Moto, SP.

“Meskipun diintai Corona, kami tetap semangat untuk Panen, karena panen tidak bisa ditunda, dengan tetap mematuhi instruksi Mentan melalui penyuluh pertanian tentang protokol kesehatan yang sangat  kami patuhi, karena petani tak ingin tertular Virus Korona", ujar Daeng Caco Ketua Kelompok Tani Sipakatau mewakili petani setempat.(FE) BBPP - BK.

Selasa, 07 April 2020

Tim P4S Shafana Cakrawala Maros Gelar Penyemprotan Disinfektan dan Sosialisasi Pencegahan Covid 19


Sigapnews.com, Maros (Sulsel) - Tim Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S)
Shafana Cakrawala yang berada di kabupaten Maros melakukan penyemprotan Disinfektan ke tempat kritis seprti rumah ibadah, gereja dan PAUD, Selasa (7/4/2020).

Penyemprotan tersebut dilakukan dalam rangka memutus mata rantai Covid 19, selain itu juga dirinya ikut ambil bagian dalam melawan penyebaran Corona Virus Desease 19.

"Tim P4S melakukan kegiatan penyemprotan ini setidaknya P4S Shafana Cakrawala dapat berkontribusi dalam melawan Covid 19, ujar salah satu anggota tim.

Sebanyak tujuh Masjid, satu Gereja dan satu sekolah PAUD yang ada di Kacamatan Cenrana menjadi sasaran lokasi penyemprotan.

Selain penyemprotan Disinfektan, hal lain yang tak kalah penting di lakukan tim P4S adalah mengedukasi warga masyarakat utamanya yang berada di sekitar Pusat pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya Shafana Cakrawala dengan turun langsung ke masyarakat terutama ke kelompok-kelompok tani untuk memberikan edukasi kepada masyarakat agar jangan panik terhadap wabah covid-19.

Selain itu juga disampaiakan agar memperbaiki pola makan serta mengkonsumsi makanan yang bergizi yang di tanam oleh para anggota Kelompok Tani .

Kontribusi Tim P4S dengan mengedukasi warga dengan Pencegahan serta penyemprotan Disinfektan ini, sejalan dengan pesan Menteri Pertanian Bapak Syahrul Yasin Limpo beberapa waktu lalu, “Dalam kondisi pandemi Corona, Masyarakat harus bersatu dan saling menjaga situasi negara agar tetap kondusif.

Jika sebaran Covid 19 ini tidak di lawan secara bersama-sama akan membuat ekonomi menurun, sehingga hal itu membuat Tim P4S yang ada di kabupaten Maros ini semangat dengan melawan virus Corona ini sebab jika tidak di lakukan perlawan maka akan berimbas ke para petani yang merupakan ujung tombak pangan nasional.

Seperti yang di sampaikan Kementerian Pertanian bahwa harus di ingat, satu-satunya lapangan kerja yang tersedia adalah pertanian, maka janganlah kita lakukan lockdown atau isolasi, olehnya itu Tim P4S berupaya agar petani lancar dalam beraktifitas dan tidak locdown sehingga mereka ambil bagian dalam pencegahan Covid 19 apa lagi menjelang panen.

Kita akan menghadapi masa panen raya di seluruh Indonesia, tapi dalam situasi seperti ini hal tersebut tidak membuat masyarakat terutama petani kita menjadi panik, makanya tetap tenang, ujar Mentan pada setiap memberikan motivasi bagi para pahlawan pangan dalam naungan kementeriannya.

Dalam hal pandemi yang melanda dunia saat ini dan menjadi perbincangan disemua kalangan terutama para petani kita di pedesaan, maka P4S Shafana Cakrawala turut mengambil bagian dalam Melawan Covid 19 ini.

Dalam situasi pandemi Covid 19 meraka tak tinggal diam, P4S mengambil langkah dengan turun bersama Tim dan berbagai stakeholder untuk bersama-sama melawan Covid 19 terutama di Kabupaten Maros khususnya di sekitar P4S dan Kecamatan Cenrana.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa P4S merupakan bagian dari Kementrian Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), dimana P4S ini adalah salah satu ujung tombak dalam memperbaiki pertanian di Indonesia, khususnya di perdesaan.

Semoga pandemi ini segera berlalu dan kita segera berbenah untuk kebangkitan bangsa dari petani untuk Indonesia. (NN-Al Az) BBPP - BK.

Begini Tips H.Bahar Alumni Sertifikasi Profesi Fasilitator Organik Tanaman Hingga Sukses



Sigapnews.com, Maros (Sulsel) - Fasilitator Organik merupakan salah satu profesi di Bidang Pertanian yang telah memiliki Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI).

Sebagai salah satu Tempat Uji Kompetensi (TUK), BBPP Batangkaluku telah beberapa kali melaksanakan sertifikasi Fasilitator Organik Tanaman. 

Diantara alumni sertifikasi yang baru dilaksanakan pada Maret 2020 adalah H. Baharuddin Syam yang biasa disapa H. Bahar. 
H. Bahar mengikuti sertifikasi profesi setelah sebelumnya mengikuti Pelatihan Fasilitator Organik Tanaman (Faston) yang dilaksanakan oleh P4S Alam Hijau Lestari.

Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) merupakan kelembagaan pelatihan/permagangan petani yang tumbuh dan berkembang dari petani, oleh petani, dan untuk petani yang secara langsung berperan aktif dalam pembangunan pertanian di wilayahnya.

H. Bahar menuturkan bahwa sebelum mengikuti pelatihan Fasilitator organik di P4S Alam Hijau Lestari, saya sudah senang bercocok tanam, khususnya sayuran tetapi belum terlalu memahami tentang pertanian organik, tururnya, Selasa (7/4/2020).

Setelah mengikuti pelatihan Faston, saya baru sadar bahwa bertani secara organik memiliki manfaat yang sangat besar, baik buat tanaman maupun untuk manusia, ujarnya. 

Oleh karenanya sejak selesai pelatihan, saya semakin giat mensosialisasikan pertanian organik ke petani, bahkan sampai keliling ke luar provinsi. 

Berhubung karena saat ini sedang ada musibah covid 19, maka kami fokus membina di wilayah terdekat dengan rumah. 

Lebih lanjut dikatakan bahwa dalam mensosialisasikan pertanian organik, ada beberapa kendala yang dihadapi, diantaranya sikap petani secara umum yang belum percaya bahwa pertanian organik bisa meningkatkan produksi.

"Memang butuh kesabaran pak, karena petani butuh bukti, oleh karena itu saya merubah strategi dalam mensosialisasikan pertanian organik agar petani mau menerapkan"
lanjut Haji Bahar, saat diwawancara melalui telepon.

Haji Bahar yang sebelumnya berprofesi sebagai pengusaha air galon sekaligus Ketua Regional PT. Bandung Eco Sinergy Teknologi (PT.BEST) Regional Makassar menuturkan bahwa "sejak mengikuti kegiatan sertifikasi profesi Bidang Fasilitator Organik Tanaman di BBPP Batangkaluku, saya semakin tertantang untuk membuktikan bahwa pertanian organik adalah solusi pembangunan pertanian masa depan Indonesia". 

Oleh karena itu saya mengajak ke petani untuk menerapkan pertanian organik dengan cara bekerja sama. Kami mencari lahan yang potensial, kemudian seluruh sarana produksi kami siapkan. Misalnya pada tanaman padi, biasanya kami tanya petani berapa hasil yang diperoleh selama ini dengan budidaya secara konvensional, jika misalnya 5 ton/ha, maka kami sampaikan jika produksi kurang dari 5 ton kami tambahkan kekurangannya dengan catatan mengikuti semua SOP budidaya yang kami siapkan dan tanpa keadaan Post Major, (seperti ledakan hama/penyakit, bencana alam dll) dan jika lebih dari 5 ton, maka kelebihan dari 5 ton kita bagi dua.Alhamdulillah mulai ada respon positif, ucap H.Bahar.

Lebih lanjut Haji Bahar mengungkapkan bahwa, saat ini kami juga sedang bekerja sama dengan petani mengembangkan budidaya Cabe Merah organik. Kami bekerja sama dengan Kelompok Tani Lamaloang, Dusun Takkalassi, Desa Tammappaduae, Kecamatan Marusu, Kabupaten Maros. 

Proses awal kami bersama-sama dengan petani membuat pupuk organik padat, membuat arang sekam dan Pupuk Organik Cair. Karena semua input produksi menggunakan organik, maka dibutuhkan tambahan produk yang memiliki kualitas yang bagus dan terpenting lagi produk tersebut harus legal dan sudah mendapat ijin edar dari Kementan.

Oleh karenanya kami tambahkan pupuk organik cair yang kadar C Organiknya di atas 50%. Ini tentu sangat baik bagi tanaman sebagai pengganti dari pupuk anorganik yang selama ini digunakan.

Sebagaimana komitmen kami dengan P4S Alam Hijau Lestari bahwa kami akan membina proses budidaya dan pemasaran hasil akan diupayakan secara bersama-sama melalui P4S supaya petani bisa terbantu.

Alhamdulillah, di P4S saat ini sudah dibentuk tim khusus untuk pemasaran semua produk yang dihasilkan oleh petani binaan.

Kami ikut pelatihan fasilitator sekitar 50 orang untuk 2 angkatan dan semua komitmen menjadi bagian dari P4S Alam Hijau Lestari sebagai instruktur.

Pesan kami ke petani indonesia, mari kita lestarikan pertanian dengan kembali ke alam (baca organik). 

Agar produksi tetap stabil, mari gunakan teknologi yang tepat guna, sehingga tetap memberikan hasil yang menguntukan bagi petani.

Bagi alumni fasilitator organik tanaman, apalagi yang sudah tersertifikasi, mari amalkan ilmunya dan jangan pernah berhenti, himbaunya. 

Petani sangat membutuhkan keberadaan kita, butuh pencerahan tentang pertanian organik sebagaimana yang diatur dalam SNI 6729 tahun 2016. Ingat, dengan bertani organik, tanah semakin subur, petani untung dan masyarakat sehat, pungkasnya.(Jml) BBPP-Bk.

Rabu, 11 Maret 2020

Tingkatkan Kompetensi Kelompok Tani Budidaya Jamur Tiram, Memacu Capai Produksi Optimal


Sigapnews.com, Maros - Sebanyak 20 petani asal Kabupaten Maros yang tergabung dalam P4S Nijalling Alam Makmur Kabupaten Maros menjadi peserta Permagangan Teknis Budidaya Jamur Tiram Bagi Petani,  Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Batangkaluku. Maros, 11 Maret 2020.

Kegiatan yang digelar selama dua hari dari Tanggal 11 – 12 Maret 2020 tersebut diadakan di P4S Nijalling Alam Makmur Kec. Bontoa Kabupaten Maros.

Kegiatan tersebut dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan kompetensi pengurus/anggota kelompok tani dalam melakukan kegiatan budidaya jamur tiram dengan mengacu pada GAP guna memacu untuk mencapai hasil produksi yang optimal.

Permagangan di buka oleh Kepala Seksi Kelembagaan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kab. Maros (Syamsul bahri, SP.,M.Si) yang dalam arahannya, beliau menyampaikan bahwa dinas mendukung kelompok tani yang ingin berkembang dan menyarankan agar kelompok tani bergabung dan membentuk P4S untuk pengembangan sarana dan prasarana.

"Kami berharap kepada peserta/petani yang mengkuti permagangan ini, setelah memperoleh materi  dapat membagi ilmu yang didapat ke petani lain ", ujarnya.

Beliau juga menyampaikan persaingan P4S berprestasi sesuai dengan yang diinginkan sehingga dapat mengembangkan potensi komoditi yang dihasilkan.

Selain itu, Dia berpesan agar kiranya untuk memperbaiki kemasan produk agar dapat dipasarkan pada kegiatan Hari Pangan Sedunia dan kegiatan lainnya.

Sementara itu di kegiatan yang sama, Saripuddin merupakan salah satu peserta (Ketua kelompok tani Pattunggalengan) sangat berterimakasih kepada BBPP Batangkaluku dan P4S Nijalling Alam Makmur atas ikut sertaannya dalam permagangan ini.

"Kami sangat membutuhkan kegiatan seperti ini guna menambah wawasan dan pengetahuan kami,  dimana nantinya materi-materi dan pembelajaran yang didapat bisa kami terapkan dengan harapan hasil produksi kami bisa meningkat", tutupnya.(Al-Az).

© Copyright 2019 SIGAPNEWS.COM | All Right Reserved