-->

Jumat, 27 Maret 2026

Monopoli Terselubung di Soppeng, Pembatasan Gabah Kecam Petani Untungkan Penggilingan

Monopoli Terselubung di Soppeng, Pembatasan Gabah Kecam Petani Untungkan Penggilingan

Soppeng, Sigapnews.com, Kabar dugaan tentang pembatasan distribusi gabah yang beredar secara tidak resmi di Kabupaten Soppeng memicu gelombang kecurigaan. Kebijakan yang belum jelas payung hukumnya ini dinilai tidak hanya mengganggu stok pangan, tetapi justru menjadi celah bagi praktik monopoli terselubung yang menguntungkan segelintir pengusaha penggilingan sekaligus menelikung petani.

Pemerhati pertanian setempat, Andi Mallingkara, angkat bicara dengan nada keras. Ia menilai kebijakan mengunci gabah di satu wilayah merupakan bentuk perampasan hak petani untuk memperoleh harga terbaik di pasar.

"Kalau gabah tidak boleh keluar, petani kehilangan pilihan. Mereka terpaksa menjual ke pembeli lokal, dan di situlah posisi tawar mereka melemah. Ini bukan distribusi, ini soal siapa yang menguasai harga, tegasnya kepada media ini, Jumat (27/3/2026).

Menurut pria yang akrab disapa Andi Malik, peniadaan kompetisi antar daerah akan membuka lebar celah bagi segelintir penggilingan untuk membentuk kartel harga. Petani tidak memiliki alternatif, sementara penggilingan dapat leluasa menekan harga di tingkat petani.

Mereka yang punya modal dan infrastruktur akan menjadi satu-satunya pintu pembeli. Itu bukan lagi pasar sehat, itu monopoli, imbuhnya.

Andi Malik juga menyoroti bahwa selama ini mekanisme distribusi lintas daerah justru menjadi penjaga utama stabilitas harga. Jika akses tersebut ditutup, petani Soppeng akan terperangkap dalam ekosistem yang seluruh aturan mainnya ditentukan oleh segelintir pemodal.

Ia pun mengingatkan risiko jangka panjang dari kebijakan yang tidak berpihak pada petani. Jangan sampai kebijakan yang dilahirkan justru melahirkan kartel lokal. Ini berbahaya bagi ekosistem pertanian kita. Petani yang seharusnya dilindungi, justru menjadi korban, ujarnya.

Hingga berita ini diturunkan, Pemerintah Kabupaten Soppeng maupun dinas terkait belum memberikan klarifikasi resmi mengenai dasar hukum dan urgensi wacana pembatasan distribusi gabah tersebut. Namun, polemik ini telah meruncing di kalangan petani yang mulai resah, bahwa kepentingan mereka bisa dikorbankan demi menjaga pasokan bagi penggilingan lokal.

"Kebijakan harus berpihak pada petani. Kalau petani dirugikan, sektor pertanian kita akan melemah dalam jangka panjang, pungkas Andi Mallingkara.

(Yunandar) 

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2019 SIGAPNEWS.COM | All Right Reserved