-->

Minggu, 07 Juni 2026

Sekolah-Sekolah Mulai Beralih ke Lereng Hijau? Fenomena Ini Bikin Peta Wisata Edukasi Soppeng Jadi Perbincangan


Soppeng, Sigapnews.com, Wisata Alam Lereng Hijau belakangan ini semakin sering menjadi tujuan kegiatan rekreasi dan pembelajaran luar kelas bagi sejumlah sekolah dasar di Kabupaten Soppeng. Fenomena tersebut menarik perhatian publik setelah beberapa sekolah dari Kecamatan Lalabata diketahui memilih destinasi wisata alam tersebut sebagai lokasi kegiatan bersama peserta didik.

Dalam beberapa kesempatan terakhir, sekolah-sekolah seperti SDN 7 Salotungo, SDN 9 Mallanroe, hingga SDN 13 Palakka tercatat menggelar kegiatan wisata edukasi di kawasan Lereng Hijau. Minggu (7/6/2026).

Kehadiran rombongan pelajar yang datang secara bergantian membuat destinasi tersebut semakin ramai diperbincangkan masyarakat.

Meningkatnya kunjungan sekolah ke Lereng Hijau memunculkan berbagai pertanyaan di tengah publik. Banyak pihak mulai mencoba membaca fenomena ini sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar tren wisata biasa. Sebab, selama ini terdapat sejumlah destinasi lain yang dikenal memiliki dukungan dan perhatian yang lebih besar dari berbagai pihak, namun justru tidak terlihat menjadi pilihan utama bagi sebagian sekolah.

Lereng Hijau sendiri berkembang sebagai destinasi yang menawarkan suasana alam terbuka dengan lingkungan yang masih asri. Hamparan pepohonan, udara yang sejuk, serta ruang yang luas menjadi daya tarik tersendiri bagi kegiatan yang melibatkan banyak peserta didik.

Bagi sekolah, faktor kenyamanan dan keamanan menjadi pertimbangan penting dalam menentukan lokasi kegiatan luar ruangan. Selain itu, suasana yang memungkinkan siswa berinteraksi langsung dengan alam dinilai memiliki nilai edukatif yang tidak bisa diperoleh sepenuhnya di dalam ruang kelas.

Sejumlah pengamat menilai bahwa pilihan sekolah sering kali menjadi indikator menarik untuk membaca tren sebuah destinasi wisata. Berbeda dengan kunjungan individu yang dapat dipengaruhi banyak faktor sesaat, keputusan sekolah biasanya melalui proses pertimbangan yang lebih matang, mulai dari fasilitas, aksesibilitas, hingga kenyamanan peserta didik selama berada di lokasi.

“Ketika sekolah memilih sebuah tempat, biasanya mereka mempertimbangkan banyak hal. Jadi kalau sebuah destinasi mulai sering dipilih, tentu ada nilai tambah yang dirasakan,” ungkap seorang pemerhati pariwisata lokal.

Fenomena ini kemudian melahirkan diskusi yang cukup hangat di berbagai kalangan masyarakat. Tidak sedikit yang mulai mempertanyakan apakah popularitas Lereng Hijau merupakan efek viral sesaat atau justru tanda bahwa preferensi masyarakat terhadap wisata edukasi sedang berubah.

Di era digital saat ini, pengalaman pengunjung memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan sebuah destinasi wisata. Satu pengalaman positif dapat menyebar dengan cepat melalui media sosial, grup percakapan, hingga rekomendasi dari mulut ke mulut. Efek inilah yang sering kali membuat sebuah tempat berkembang tanpa promosi besar-besaran.

Banyak pihak menilai bahwa kepercayaan publik merupakan modal utama dalam industri pariwisata. Ketika pengunjung merasa puas, mereka akan dengan sukarela menjadi promotor yang memperkenalkan destinasi tersebut kepada orang lain. Sebaliknya, fasilitas yang besar sekalipun tidak selalu menjamin tingginya minat pengunjung apabila pengalaman yang diberikan tidak sesuai harapan.

Karena itu, meningkatnya kunjungan sekolah ke Lereng Hijau dianggap sebagai fenomena yang layak dicermati. Terlebih, sekolah merupakan kelompok pengunjung yang cukup selektif dalam menentukan tujuan kegiatan.

Meski demikian, hingga saat ini belum ada data resmi yang dapat memastikan apakah telah terjadi pergeseran besar dalam peta wisata edukasi di Kabupaten Soppeng. Namun satu hal yang sulit dibantah adalah semakin seringnya nama Lereng Hijau muncul dalam berbagai aktivitas sekolah.

Jika tren ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin Lereng Hijau akan semakin memperkuat posisinya sebagai salah satu destinasi wisata edukasi yang diperhitungkan di daerah tersebut. Pada akhirnya, pilihan para sekolah mungkin sedang menyampaikan pesan sederhana bahwa kualitas pengalaman pengunjung tetap menjadi faktor yang paling menentukan.

Kini pertanyaan yang terus bergema di tengah masyarakat Soppeng adalah: ketika sekolah diberikan kebebasan untuk memilih tujuan wisatanya sendiri, mengapa nama Lereng Hijau semakin sering muncul dibandingkan sebelumnya? Jawaban atas pertanyaan itulah yang tampaknya akan terus menjadi bahan diskusi menarik dalam perkembangan dunia pariwisata lokal.

(Yund)

Sabtu, 06 Juni 2026

Bupati Soppeng Beri Pesan Khusus kepada Pensiunan Guru, Isinya Jadi Sorotan


Soppeng, Sigapnews.com, Pemerintah Kabupaten Soppeng menegaskan komitmennya dalam menjaga hubungan dan sinergi dengan para insan pendidikan yang telah memasuki masa purnabakti. Hal tersebut terlihat saat Bupati Soppeng, H. Suwardi Haseng, menerima kunjungan silaturahmi Ikatan Purnakaryawan Pendidikan dan Kebudayaan (IPPK) Kabupaten Soppeng di Rumah Jabatan Bupati, Sabtu (6/6).

Pertemuan yang berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keakraban tersebut menjadi momentum penting untuk mempererat tali silaturahmi sekaligus memperkuat komunikasi antara pemerintah daerah dengan para purnakaryawan pendidikan yang selama puluhan tahun telah mengabdikan diri dalam dunia pendidikan.

Selain sebagai ajang silaturahmi, kegiatan tersebut juga menjadi kesempatan bagi IPPK Kabupaten Soppeng untuk memperkenalkan eksistensi organisasi yang menjadi wadah resmi para purnakaryawan di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Organisasi ini menghimpun para pensiunan tenaga pendidik dan kependidikan, mulai dari guru, dosen, hingga tenaga administrasi dan struktural yang pernah mengabdi dalam dunia pendidikan.

Ketua IPPK Kabupaten Soppeng, H. Andi Asis, mengatakan bahwa kunjungan tersebut bertujuan membangun sinergi yang berkelanjutan dengan Pemerintah Kabupaten Soppeng. Menurutnya, para anggota IPPK masih memiliki semangat dan kepedulian yang tinggi terhadap perkembangan pendidikan di daerah meskipun telah memasuki masa pensiun.

“Kami ingin IPPK tetap aktif, produktif, dan memberi manfaat meskipun para anggotanya telah memasuki masa purnabakti. Silaturahmi ini menjadi ruang bagi kami untuk bertukar gagasan serta memperoleh masukan demi kemajuan pendidikan di Soppeng,” ujarnya.

Andi Asis menambahkan bahwa pengalaman panjang yang dimiliki para purnakaryawan pendidikan merupakan modal penting yang dapat terus dimanfaatkan untuk mendukung pembangunan sumber daya manusia di Kabupaten Soppeng. Karena itu, pihaknya berharap hubungan baik dengan pemerintah daerah dapat terus terjalin sehingga berbagai gagasan dan pemikiran yang dimiliki para anggota IPPK dapat memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Menanggapi hal tersebut, Bupati Soppeng H. Suwardi Haseng menyampaikan apresiasi dan penghargaan yang tinggi kepada seluruh anggota IPPK atas dedikasi dan pengabdian yang telah diberikan selama bertahun-tahun dalam mencerdaskan generasi bangsa, khususnya di Kabupaten Soppeng.

Menurut Suwardi Haseng, keberhasilan pembangunan pendidikan yang dirasakan saat ini tidak terlepas dari peran besar para guru dan tenaga kependidikan yang telah mengabdikan tenaga, pikiran, dan waktunya untuk mendidik generasi muda.

“Pengabdian Bapak dan Ibu guru serta tenaga kependidikan merupakan fondasi penting bagi kemajuan pendidikan kita. Semoga silaturahmi ini membawa keberkahan dan semakin memperkuat kebersamaan dalam membangun daerah,” katanya.

Bupati juga menegaskan bahwa para purnakaryawan pendidikan bukanlah sosok yang berhenti berkontribusi setelah memasuki masa pensiun. Sebaliknya, pengalaman, wawasan, serta pemikiran yang mereka miliki masih sangat dibutuhkan dalam memberikan masukan dan inspirasi bagi generasi penerus maupun pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan pendidikan yang lebih baik.

Ia berharap semangat pengabdian yang selama ini melekat pada diri para pendidik tetap terjaga dan terus menjadi energi positif dalam mendukung pembangunan daerah. Menurutnya, keberadaan para purnakaryawan pendidikan merupakan aset berharga yang memiliki nilai strategis bagi kemajuan Kabupaten Soppeng.

Pertemuan tersebut juga menjadi wadah dialog antara pemerintah daerah dan para anggota IPPK terkait berbagai isu pendidikan, tantangan yang dihadapi dunia pendidikan saat ini, serta peluang kolaborasi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di daerah.

Sebagai organisasi yang menaungi para pensiunan tenaga pendidik dan kependidikan, IPPK memiliki peran penting dalam menjaga semangat kebersamaan serta menjadi ruang berbagi pengalaman dan gagasan. Organisasi ini juga diharapkan mampu menjadi mitra strategis pemerintah dalam memberikan pandangan dan masukan konstruktif terkait pengembangan pendidikan.

Melalui silaturahmi tersebut, diharapkan hubungan harmonis antara Pemerintah Kabupaten Soppeng dan para purnakaryawan pendidikan dapat terus terjalin dengan baik. Sinergi yang dibangun tidak hanya menjadi bentuk penghargaan atas jasa-jasa para pendidik, tetapi juga menjadi langkah nyata dalam memanfaatkan pengalaman dan pengetahuan mereka untuk mendukung kemajuan pendidikan serta pembangunan daerah di masa mendatang.

(Yund)

Selasa, 02 Juni 2026

Kakak, Besok Kami Mencari Kalian di Sekolah, Tapi Kalian Sudah Tidak Ada...” Tangis Bilqis Pecah di Pelepasan Kelas VI SD Negeri 118 Ujung


Soppeng, Kabartujuhsatu.news,– Suasana haru menyelimuti acara pelepasan siswa Kelas VI SD Negeri 118 Ujung yang digelar dengan penuh khidmat dan kebahagiaan. Acara yang seharusnya menjadi momen perayaan kelulusan itu berubah menjadi lautan emosi ketika seorang siswi kelas V, Bilqis Tiffani Tafeng, menyampaikan sambutan perpisahan yang begitu menyentuh hati. Selasa (2/6/2026).

Di hadapan para guru, orang tua siswa, tamu undangan, dan seluruh siswa yang hadir, Bilqis berdiri dengan penuh keberanian. Mengenakan seragam sekolah yang rapi, siswi kecil itu awalnya tampak tenang saat menggenggam naskah sambutannya. Namun tak lama kemudian, suaranya mulai bergetar ketika menyampaikan pesan kepada kakak-kakak kelas yang akan meninggalkan sekolah yang selama ini menjadi rumah kedua mereka.

"Kakak, hari ini kami tersenyum melihat kakak memakai pakaian yang indah. Kami ikut bangga karena kakak sudah lulus. Tapi di dalam hati kami, ada sedih yang tidak bisa kami sembunyikan," ucap Bilqis.

Kalimat pembuka itu langsung membuat suasana ruangan menjadi hening. Para siswa yang semula bercengkerama mulai memperhatikan setiap kata yang keluar dari mulut Bilqis. Para guru yang duduk di deretan depan tampak menyimak dengan penuh perhatian.

Bilqis kemudian menatap satu per satu siswa kelas VI yang duduk mengikuti prosesi pelepasan. Matanya mulai berkaca-kaca ketika membayangkan hari-hari sekolah yang akan berbeda setelah kakak-kakak kelasnya tidak lagi hadir di lingkungan sekolah.

"Besok pagi saat kami datang ke sekolah, kami mungkin masih melihat kelas kakak. Kami masih melihat kursi tempat kakak duduk. Kami masih melihat halaman tempat kakak bermain. Tapi kami tidak akan melihat kakak lagi."

Ucapan tersebut sontak membuat banyak siswa terdiam. Beberapa siswa kelas VI terlihat menundukkan kepala, sementara sebagian lainnya mulai mengusap mata yang mulai basah oleh air mata.

Dalam sambutannya, Bilqis mengungkapkan bahwa selama ini kakak-kakak kelas VI bukan sekadar siswa yang lebih tua. Mereka adalah sosok yang setiap hari hadir dalam perjalanan masa kecil adik-adik kelas di sekolah. Kehadiran mereka menjadi bagian dari kenangan yang akan terus tersimpan.

"Kami sedih karena mulai besok tidak ada lagi kakak yang menyapa kami di gerbang sekolah. Tidak ada lagi kakak yang kami lihat saat upacara. Tidak ada lagi kakak yang kami kagumi ketika tampil di depan sekolah."

Kata-kata sederhana tersebut justru menjadi bagian yang paling menyentuh. Banyak orang tua siswa yang hadir tampak mulai mengusap air mata. Sebagian guru bahkan terlihat menundukkan kepala karena larut dalam suasana haru.

Bilqis kemudian mengungkapkan bahwa selama ini dirinya dan teman-temannya sering menjadikan kakak-kakak kelas VI sebagai panutan. Mereka melihat sosok kakak kelas sebagai gambaran diri mereka di masa depan.

"Kakak mungkin tidak tahu, tapi kami sering ingin menjadi seperti kakak. Kami ingin pintar seperti kakak. Kami ingin berani seperti kakak. Kami ingin suatu hari nanti bisa berdiri di tempat kakak hari ini."

Kalimat itu kembali disambut keheningan. Tak sedikit siswa kelas VI yang mulai menangis karena merasa dihargai dan dikenang oleh adik-adik kelas mereka.

Menurut sejumlah guru yang hadir, momen tersebut menjadi salah satu bagian paling mengharukan sepanjang pelaksanaan acara pelepasan siswa di sekolah itu. Sambutan yang disampaikan Bilqis dianggap mewakili perasaan banyak siswa yang harus berpisah dengan teman, kakak kelas, dan lingkungan yang telah menemani mereka selama bertahun-tahun.

Tidak berhenti sampai di situ, Bilqis juga menyampaikan harapan besar bagi masa depan para lulusan SD Negeri 118 Ujung. Dengan penuh ketulusan, ia mendoakan agar seluruh kakak kelasnya dapat meraih cita-cita yang selama ini mereka impikan.

"Kalau nanti kakak sudah besar, sudah menjadi dokter, guru, polisi, tentara, pengusaha, atau apa pun cita-citanya, tolong jangan lupa bahwa dulu kakak pernah berlari-lari di halaman sekolah ini. Pernah belajar di kelas ini. Pernah dipanggil namanya oleh guru-guru yang sangat sayang kepada kakak."

Ucapan tersebut membuat suasana semakin emosional. Beberapa orang tua siswa tampak tidak mampu lagi menahan tangis. Momen yang awalnya dipenuhi senyum kebahagiaan berubah menjadi ruang penuh kenangan dan rasa syukur.

Bilqis lalu berhenti sejenak untuk menenangkan dirinya. Dengan suara yang lirih dan sesekali terputus karena menahan tangis, ia menyampaikan doa terakhir untuk kakak-kakak kelasnya.

"Kakak, kami tidak punya hadiah yang mahal untuk diberikan. Kami hanya punya doa. Semoga Allah menjaga setiap langkah kakak. Semoga kakak berhasil meraih semua cita-cita. Dan semoga suatu hari nanti kakak kembali ke sekolah ini untuk bercerita kepada kami tentang mimpi yang sudah menjadi kenyataan."

Tepuk tangan panjang langsung menggema di seluruh ruangan setelah kalimat tersebut selesai diucapkan. Banyak siswa, guru, dan orang tua berdiri memberikan apresiasi atas keberanian dan ketulusan Bilqis dalam menyampaikan pesan perpisahan.

Pada bagian akhir sambutannya, Bilqis menyampaikan satu kalimat yang menjadi puncak emosi acara tersebut.

"Kalau rindu punya suara, mungkin hari ini suara itu adalah suara kami. Suara adik-adik yang belum siap berpisah dengan kakak-kakak yang kami sayangi."

Kalimat itu seolah menjadi representasi perasaan seluruh siswa yang hadir. Tidak sedikit yang terlihat menangis haru, termasuk beberapa guru yang selama ini mendampingi perjalanan para siswa sejak awal masuk sekolah.

Kepala sekolah dan para guru mengaku bangga melihat ketulusan yang ditunjukkan para siswa. Menurut mereka, pendidikan bukan hanya tentang nilai akademik, tetapi juga tentang membangun karakter, rasa hormat, kasih sayang, dan hubungan kekeluargaan di lingkungan sekolah.

Acara pelepasan Kelas VI SD Negeri 118 Ujung akhirnya berlangsung dengan penuh kenangan. Para siswa saling bersalaman, berpelukan, dan mengabadikan momen bersama guru serta teman-teman mereka.

Hari itu, Bilqis Tiffani Tafeng tidak sekadar menyampaikan sambutan perpisahan. Ia menyampaikan suara hati yang mewakili kerinduan banyak adik kelas kepada kakak-kakak yang akan melangkah menuju jenjang pendidikan berikutnya. Sebuah pesan sederhana yang mengingatkan bahwa setiap perpisahan selalu meninggalkan jejak kenangan yang akan terus hidup dalam ingatan.

Bagi keluarga besar SD Negeri 118 Ujung, momen tersebut akan dikenang sebagai salah satu peristiwa paling menyentuh yang pernah terjadi dalam perjalanan sekolah. Sebab di balik kelulusan dan perpisahan, tersimpan cerita tentang persahabatan, keteladanan, dan kasih sayang yang tumbuh di antara generasi-generasi siswa yang pernah belajar di tempat yang sama.

(Red)

Jumat, 29 Mei 2026

ASN Soppeng Mulai Mengeluh Diam-Diam! Aplikasi Setara Disebut Bikin Pegawai Lebih Takut Absen Daripada Terlambat Kerja”


Soppeng, Sigapnews.com, Polemik aplikasi absensi digital “Setara” kini makin ramai diperbincangkan masyarakat di Soppeng. Setelah sebelumnya menuai sorotan soal aturan jam pulang pada hari Jumat, kini publik kembali dibuat terkejut setelah mengetahui sistem absensi ASN dan PPPK dilakukan hingga empat kali dalam sehari.

Mulai dari absensi masuk pagi, absensi saat jam istirahat, absensi setelah istirahat, hingga absensi pulang sore,  seluruh pegawai diwajibkan aktif memantau aplikasi setiap hari kerja.

Di tengah upaya pemerintah mendorong disiplin digital, suara-suara keluhan mulai terdengar pelan dari kalangan ASN sendiri. Terutama guru dan pegawai lapangan yang merasa ritme absensi semakin menyita perhatian mereka saat bekerja.

“Kadang kami lebih khawatir soal titik absensi daripada pekerjaan utama di lapangan,” ungkap salah seorang ASN yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Keluhan serupa juga mulai ramai dibicarakan masyarakat. Banyak yang mempertanyakan apakah sistem pengawasan digital seperti ini benar-benar efektif meningkatkan pelayanan atau justru menambah tekanan administratif baru di lingkungan birokrasi.

Ketua LSM LIDIK, Gasali Makkaraka, menilai pemerintah perlu segera mengevaluasi pola penggunaan aplikasi tersebut sebelum menimbulkan kejenuhan di kalangan pegawai.

“Digitalisasi itu penting, tetapi jangan sampai ASN lebih sibuk mengejar notifikasi absensi dibanding melayani masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, penggunaan aplikasi secara intens hingga empat kali sehari mulai menimbulkan kesan birokrasi yang terlalu kaku.

“Publik mendukung disiplin pegawai. Tetapi kalau sistem terasa terlalu menekan, itu justru bisa berdampak pada psikologis kerja ASN,” tambahnya.

Sorotan paling keras datang dari kalangan guru ASN yang bertugas jauh dari pusat kota. Mereka mengaku ritme absensi digital terasa cukup memberatkan, khususnya pada hari Jumat yang waktunya sering beririsan dengan salat Jumat serta perjalanan pulang.

“Kami ini fokus mengajar siswa. Kadang suasana kelas terganggu hanya karena memikirkan jadwal absensi berikutnya,” ujar seorang guru. Jum'at (29/5/2026).

Di media sosial lokal, pembahasan mengenai aplikasi Setara mulai berkembang liar. Sebagian masyarakat mendukung pengawasan disiplin ASN, namun tidak sedikit pula yang meminta pemerintah daerah lebih bijak dalam menerapkan sistem digital.

Beberapa warga bahkan mulai membandingkan ketatnya pengawasan absensi dengan berbagai persoalan birokrasi lain yang dianggap belum sepenuhnya dibenahi, seperti distribusi tenaga guru, pelayanan administrasi, hingga penempatan pegawai.

“Jangan hanya ASN yang dituntut disiplin per menit. Sistem pelayanan publik juga harus dibenahi serius,” tulis salah satu komentar warga yang ramai diperbincangkan.

Gazali kembali mengingatkan agar pemerintah tidak menutup mata terhadap suara publik yang mulai berkembang di tengah masyarakat.

“Yang berbahaya kalau aplikasi akhirnya terasa lebih menekan daripada membantu. Teknologi harus jadi solusi, bukan sumber keresahan baru,” tegasnya.

Kini desakan evaluasi terhadap aplikasi Setara mulai bermunculan. Masyarakat berharap pemerintah daerah dapat mengkaji ulang efektivitas absensi empat kali sehari agar transformasi digital tetap berjalan tanpa mengorbankan kenyamanan kerja ASN di lapangan.

Sebab jika tidak dievaluasi dengan baik, sistem yang awalnya dibuat untuk meningkatkan disiplin dikhawatirkan justru berubah menjadi simbol birokrasi yang terlalu sibuk mengawasi, tetapi kurang memahami kondisi nyata pegawai dan pelayanan masyarakat sehari-hari.

(**)

PLT Terus, Kepsek Tak Bergeser” Polemik Jabatan di Soppeng Dinilai Cermin Birokrasi Pendidikan yang Kehilangan Arah


Soppeng, Sigapnews.com, Polemik penataan jabatan kepala sekolah di Kabupaten Soppeng kini bukan lagi sekadar pembicaraan internal dunia pendidikan. Isu tersebut telah berkembang menjadi kritik terbuka terhadap cara birokrasi daerah mengelola kewenangan, menjalankan regulasi, hingga menjaga rasa keadilan di lingkungan guru dan tenaga pendidikan.

Di tengah aturan periodisasi kepala sekolah yang seharusnya menjadi instrumen regenerasi dan evaluasi kepemimpinan, justru muncul kondisi yang dianggap bertolak belakang dengan semangat reformasi birokrasi.

Sejumlah kepala sekolah disebut masih bertahan dalam posisi strategis meski masa periodisasinya menjadi sorotan, sementara di sisi lain banyak jabatan lain dibiarkan berstatus Pelaksana Tugas (PLT) dalam waktu panjang tanpa kepastian definitif.

Situasi ini memunculkan berbagai spekulasi di tengah masyarakat. Tidak sedikit yang mulai mempertanyakan apakah penataan jabatan benar-benar dilakukan berdasarkan evaluasi kinerja dan aturan, atau justru dipengaruhi faktor kedekatan serta kepentingan kelompok tertentu.

Kritik paling keras datang dari kalangan legislatif. Anggota DPRD Kabupaten Soppeng Fraksi PDI Perjuangan, Ardi Doma, secara terbuka meminta pemerintah daerah segera mengambil langkah tegas dan objektif sebelum persoalan tersebut semakin merusak kepercayaan publik terhadap birokrasi pendidikan.

“Kalau memang tidak mampu menata secara profesional dan objektif, serahkan kepada orang yang benar-benar memahami tata kelola pendidikan dan regulasi jabatan,” tegas Ardi. Jum'at (29/5/2026). 

Menurutnya, polemik ini sudah melampaui urusan administrasi biasa. Persoalan tersebut dinilai telah menyentuh marwah birokrasi pendidikan dan menyangkut rasa keadilan bagi para guru yang selama ini berharap adanya sistem promosi yang sehat dan transparan.

“Guru-guru melihat semuanya. Mereka bisa membedakan mana kebijakan yang lahir dari aturan dan mana kebijakan yang hanya lahir dari bisikan kelompok tertentu. Jangan sampai birokrasi kehilangan wibawa karena terlalu banyak mendengar pembisik yang tidak memahami regulasi,” ujarnya.

Ardi menilai lambannya penataan jabatan kepala sekolah dapat memunculkan persepsi negatif di tengah masyarakat. Terlebih ketika muncul kesan bahwa sebagian pihak tetap nyaman menikmati jabatan, sementara yang lain harus bertahan lama dalam status PLT tanpa kejelasan arah karier.

“Ini berbahaya. Publik bisa menangkap kesan bahwa ada pihak tertentu yang dipertahankan terus, sedangkan yang lain hanya dibiarkan menunggu tanpa kepastian,” katanya.

Di ruang-ruang publik, mulai dari warung kopi hingga forum diskusi masyarakat, isu tersebut semakin ramai diperbincangkan. Bahkan muncul sindiran satir yang menyebut birokrasi pendidikan jangan sampai terlihat seperti “sibuk menikmati fasilitas jabatan tetapi lupa menyelesaikan pekerjaan utama.”

Sejumlah pemerhati pendidikan juga mulai angkat suara. Mereka menilai ketidakjelasan penataan jabatan dapat berdampak serius terhadap motivasi guru-guru potensial yang selama ini berharap promosi dilakukan berdasarkan kompetensi dan rekam jejak kinerja.

“Yang paling berbahaya ketika guru mulai percaya bahwa prestasi dan pengabdian tidak lagi cukup untuk mendapat kesempatan. Kalau persepsi itu tumbuh, maka semangat kompetisi sehat di dunia pendidikan bisa rusak,” ujar seorang pemerhati pendidikan di Soppeng.

Kondisi jabatan PLT yang berlangsung terlalu lama juga dinilai dapat mengganggu efektivitas pengambilan kebijakan di sekolah. Sebab pejabat berstatus PLT umumnya memiliki keterbatasan kewenangan dalam mengambil keputusan strategis.

Akibatnya, banyak sekolah dinilai berjalan dalam situasi serba menunggu. Program pengembangan pendidikan menjadi kurang maksimal karena kepemimpinan tidak berjalan dalam posisi definitif yang kuat dan stabil.

Di sisi lain, masyarakat mulai mempertanyakan konsistensi pemerintah daerah dalam menjalankan prinsip meritokrasi birokrasi. Sebab jika aturan periodisasi diterapkan, maka seharusnya kebijakan tersebut berlaku secara merata tanpa pengecualian.

“Jangan sampai aturan hanya tajam kepada sebagian orang, tetapi tumpul kepada pihak lain. Itu yang membuat publik bertanya-tanya,” kata seorang tokoh masyarakat.

Hingga kini, tekanan publik terus mengarah kepada Pemerintah Kabupaten Soppeng agar segera membuka secara transparan dasar evaluasi, periodisasi, serta mekanisme penempatan kepala sekolah.

Publik menilai keterbukaan penting dilakukan untuk menghindari berkembangnya asumsi liar yang dapat merusak citra pemerintahan daerah maupun dunia pendidikan itu sendiri.

Sebab jika polemik ini terus dibiarkan tanpa penjelasan yang terang, maka yang dipertaruhkan bukan hanya jabatan kepala sekolah semata, melainkan juga kepercayaan masyarakat terhadap profesionalisme birokrasi pendidikan di Kabupaten Soppeng.

(**)

Minggu, 24 Mei 2026

Heboh di Seoul! Tiga Mahasiswa S3 Unesa Wakili Indonesia di Forum Pendidikan Dunia ICETT 2026

Tiga Akademisi Muda Indonesia Tampil Percaya Diri di Panggung Global (ist). 

Korsel, Sigapnews.com, Nama Indonesia kembali mencuri perhatian di dunia akademik internasional. Kali ini, tiga mahasiswa Program Doktor (S3) Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) berhasil tampil dalam forum pendidikan dunia bergengsi bertajuk 2026 12th International Conference on Education and Training Technologies (ICETT 2026) yang berlangsung pada 22–24 Mei 2026 di Skypark Kingstown Hotel Dongdaemun, Seoul, Korea Selatan.

Tiga mahasiswa tersebut adalah Muldiyana, Muhammad Hanif, dan Asmaul Husnah. Kehadiran mereka bukan hanya sekadar peserta konferensi biasa, tetapi menjadi simbol meningkatnya kualitas akademik dan riset pendidikan Indonesia di tingkat internasional.

Konferensi ICETT 2026 dikenal sebagai salah satu forum akademik global yang mempertemukan para peneliti, profesor, praktisi pendidikan, pengembang teknologi pembelajaran, hingga inovator digital dari berbagai negara. Tahun ini, konferensi mengangkat tema besar “Educate. Train. Innovate.” yang berfokus pada masa depan pendidikan berbasis teknologi dan kecerdasan buatan.

Di tengah persaingan akademik dunia yang semakin kompetitif, mahasiswa doktoral Unesa mampu berdiri sejajar dengan peserta dari berbagai universitas ternama dunia. Mereka aktif berdiskusi, berbagi ide, serta mengikuti berbagai sesi ilmiah terkait perkembangan teknologi pendidikan modern.

Keikutsertaan mahasiswa S3 Teknologi Pendidikan Unesa menjadi perhatian tersendiri karena menunjukkan bahwa akademisi muda Indonesia mampu bersaing dalam forum internasional yang dihadiri ratusan peserta dari berbagai negara.

Dalam forum tersebut, berbagai isu strategis pendidikan global menjadi topik utama pembahasan. Mulai dari transformasi digital pendidikan, pemanfaatan artificial intelligence (AI) dalam pembelajaran, pengembangan media pembelajaran interaktif, hingga model pelatihan berbasis teknologi yang kini menjadi kebutuhan utama dunia pendidikan modern.

Banyak peserta konferensi mempresentasikan hasil penelitian terbaru mereka terkait inovasi pembelajaran digital, virtual learning environment, adaptive learning system, hingga integrasi AI dalam proses pendidikan.

Di tengah arus perkembangan teknologi yang sangat cepat, kehadiran mahasiswa Indonesia dalam forum tersebut dinilai menjadi bukti bahwa kualitas riset pendidikan nasional semakin diperhitungkan di mata dunia.

Tidak hanya membawa nama kampus, ketiga mahasiswa tersebut juga membawa perspektif pendidikan Indonesia ke hadapan komunitas akademik internasional.

Salah satu peserta mengungkapkan rasa bangga dan antusiasmenya bisa menjadi bagian dari forum dunia tersebut.

“Kami merasa sangat bangga bisa berada di forum internasional ini. Banyak wawasan baru yang kami dapatkan terkait perkembangan teknologi pendidikan dunia. Ini menjadi motivasi besar untuk terus mengembangkan inovasi pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan zaman,” ujarnya.

Pengalaman mengikuti konferensi internasional juga memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memahami bagaimana negara-negara lain mengembangkan sistem pendidikan berbasis teknologi secara lebih efektif dan inovatif.

Partisipasi mahasiswa doktoral Unesa di Korea Selatan menjadi sinyal kuat meningkatnya eksistensi perguruan tinggi Indonesia di level global.

Dalam beberapa tahun terakhir, internasionalisasi kampus memang menjadi salah satu strategi penting yang terus didorong oleh banyak perguruan tinggi di Indonesia. Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, memperluas jejaring akademik internasional, serta memperkuat reputasi riset di tingkat dunia.

Keikutsertaan dalam konferensi internasional seperti ICETT membuka peluang besar bagi mahasiswa maupun dosen untuk membangun kolaborasi penelitian lintas negara.

Selain itu, forum semacam ini juga menjadi ruang pertukaran ide dan pengalaman antarnegara dalam menghadapi tantangan pendidikan modern yang semakin kompleks akibat perkembangan teknologi digital.

Melalui keterlibatan aktif dalam konferensi internasional, mahasiswa Indonesia juga memiliki kesempatan untuk memperluas akses terhadap publikasi ilmiah bereputasi internasional.

Hal tersebut menjadi salah satu indikator penting dalam peningkatan kualitas akademik perguruan tinggi di era globalisasi pendidikan.

Perkembangan teknologi digital yang sangat pesat membuat dunia pendidikan mengalami perubahan besar dalam beberapa tahun terakhir.

Artificial intelligence, virtual learning, big data education, hingga adaptive learning system kini mulai menjadi bagian penting dalam sistem pendidikan global.

Banyak institusi pendidikan di dunia mulai memanfaatkan teknologi untuk menciptakan proses pembelajaran yang lebih fleksibel, efektif, dan personal.

Transformasi ini juga mendorong lahirnya berbagai inovasi pendidikan berbasis digital yang mampu menjawab tantangan zaman.

Dalam konteks tersebut, mahasiswa doktoral memiliki peran strategis sebagai peneliti dan pengembang inovasi pendidikan.

Mereka dituntut tidak hanya mampu menghasilkan penelitian berkualitas, tetapi juga menciptakan solusi pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan generasi masa depan.

Keikutsertaan mahasiswa Unesa dalam ICETT 2026 menjadi bukti bahwa akademisi muda Indonesia siap ikut berkontribusi dalam membangun masa depan pendidikan dunia.

Salah satu isu yang paling banyak mendapat perhatian dalam konferensi ICETT 2026 adalah pemanfaatan artificial intelligence dalam pendidikan.

AI dinilai mampu menghadirkan sistem pembelajaran yang lebih adaptif dan personal sesuai kebutuhan setiap peserta didik.

Teknologi ini juga memungkinkan guru dan institusi pendidikan untuk melakukan analisis data pembelajaran secara lebih cepat dan akurat.

Selain AI, berbagai inovasi lain seperti gamification learning, augmented reality (AR), virtual reality (VR), serta learning analytics juga menjadi topik hangat dalam forum tersebut.

Para peserta konferensi berdiskusi tentang bagaimana teknologi dapat membantu menciptakan sistem pendidikan yang lebih inklusif, efisien, dan mudah diakses oleh masyarakat luas.

Bagi mahasiswa Indonesia, pengalaman mengikuti diskusi global semacam ini menjadi kesempatan penting untuk memperluas wawasan sekaligus memahami arah perkembangan pendidikan dunia di masa depan.

Perjalanan tiga mahasiswa doktoral Unesa menuju Seoul menjadi simbol semangat generasi muda Indonesia dalam membawa perubahan melalui pendidikan.

Mereka membuktikan bahwa perjuangan akademik tidak berhenti di ruang kelas, tetapi juga harus mampu hadir di forum internasional untuk berbagi gagasan dan inovasi.

Pengalaman, wawasan global, serta jejaring internasional yang diperoleh dari konferensi ICETT 2026 diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi pengembangan teknologi pendidikan di Indonesia.

Khususnya di lingkungan Universitas Negeri Surabaya, pengalaman tersebut diyakini dapat menjadi modal penting dalam meningkatkan kualitas penelitian dan inovasi pembelajaran di tanah air.

Dengan semangat kolaborasi global dan inovasi berkelanjutan, mahasiswa S3 Teknologi Pendidikan Unesa menunjukkan bahwa akademisi muda Indonesia mampu tampil maju, modern, dan kompetitif di mata dunia.

Dari Surabaya menuju Seoul, mereka membawa mimpi besar pendidikan Indonesia untuk terus berkembang dan bersaing di era global.

Keberhasilan mahasiswa doktoral Unesa tampil di forum pendidikan internasional diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia lainnya.

Partisipasi aktif dalam konferensi global bukan hanya meningkatkan pengalaman akademik, tetapi juga membuka peluang besar untuk membangun kerja sama internasional yang bermanfaat bagi kemajuan pendidikan nasional.

Di era transformasi digital saat ini, kualitas sumber daya manusia menjadi faktor penting dalam menentukan kemajuan sebuah bangsa.

Karena itu, dukungan terhadap riset, inovasi pendidikan, dan pengembangan teknologi pembelajaran perlu terus diperkuat.

Ke depan, diharapkan semakin banyak mahasiswa Indonesia yang mampu tampil di panggung akademik internasional dan membawa nama bangsa menjadi lebih diperhitungkan di dunia.

Dengan semangat belajar, inovasi, dan kolaborasi global, pendidikan Indonesia memiliki peluang besar untuk terus berkembang menuju masa depan yang lebih maju.

(Red)

Selasa, 12 Mei 2026

Publik Pertanyakan Sikap Dewan Pendidikan Soppeng: “Dulu Vokal, Kini Diam Saat Polemik Mutasi Muncul”


Soppeng, Sigapnews.com,— Polemik penataan dan mutasi kepala sekolah di Kabupaten Soppeng terus memantik perhatian publik. Kali ini, sorotan tajam mengarah kepada Dewan Pendidikan Kabupaten Soppeng yang selama ini dikenal aktif menyuarakan aspirasi guru dan kepala sekolah.

Masyarakat mulai mempertanyakan sikap lembaga tersebut yang dinilai cenderung diam di tengah munculnya keluhan terkait ketimpangan penerapan aturan masa jabatan kepala sekolah pasca terbitnya Permendikdasmen Nomor 7 Tahun 2025.

Publik mengingat kembali pernyataan Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Soppeng beberapa waktu lalu yang menegaskan bahwa mutasi kepala sekolah maupun guru tidak boleh dilakukan apabila berpotensi merugikan serta tidak didasarkan pada pertimbangan objektif.

Namun kini, ketika isu mutasi dan rotasi kembali menjadi perbincangan hangat, suara lembaga tersebut justru dinilai nyaris tak terdengar.

“Dulu sangat lantang membela guru dan kepala sekolah. Sekarang ketika publik mempertanyakan ketidakadilan dalam penataan jabatan, kenapa malah sunyi?” ujar seorang tokoh masyarakat di Soppeng. Selasa (12/5).

Kondisi tersebut memunculkan beragam spekulasi di tengah masyarakat. Bahkan muncul sinyalemen adanya kedekatan tertentu antara pihak terkait dengan pemangku kebijakan, sehingga kritik yang sebelumnya keras kini berubah menjadi sikap diam.

Meski tudingan itu belum tentu benar, masyarakat menilai Dewan Pendidikan seharusnya tampil memberikan penjelasan secara terbuka agar tidak menimbulkan prasangka liar di ruang publik.

“Kalau memang berpihak pada kepentingan pendidikan dan guru, seharusnya tetap konsisten bersuara. Jangan hanya keras ketika situasi aman, lalu diam saat kebijakan mulai dipersoalkan,” kata warga lainnya.

Masyarakat juga menilai fungsi Dewan Pendidikan bukan sekadar simbol atau pelengkap administratif, melainkan harus benar-benar menjadi pengawas moral dalam kebijakan pendidikan daerah, terutama ketika muncul dugaan ketidakadilan dalam penerapan aturan masa jabatan kepala sekolah.

Dalam Permendikdasmen Nomor 7 Tahun 2025, pemerintah pusat menegaskan bahwa batas maksimal masa penugasan kepala sekolah ASN adalah dua periode atau delapan tahun. Namun di lapangan, publik masih melihat adanya kepala sekolah yang telah lama menjabat tanpa kejelasan evaluasi, sementara sebagian lainnya justru dipindahkan sebelum masa tugasnya berakhir.

Fenomena inilah yang kemudian memicu pertanyaan besar di tengah masyarakat: apakah aturan benar-benar ditegakkan secara adil, atau hanya berlaku bagi pihak tertentu?

Publik berharap Dewan Pendidikan Kabupaten Soppeng tetap menjaga independensi serta keberanian moral dalam menyikapi persoalan pendidikan di daerah.

“Kalau lembaga yang selama ini disebut sebagai penyambung lidah guru saja ikut diam, lalu siapa lagi yang akan berbicara untuk keadilan di dunia pendidikan?” tegas seorang warga.

(Red)

Senin, 06 April 2026

KKG Gugus 1 Lalabata Bahas Ketimpangan Guru dan Optimalisasi Digitalisasi Pendidikan


Soppeng, Sigapnews.com,– Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus 1 Kecamatan Lalabata menggelar pertemuan rutin yang berlangsung di SD Negeri 13 Palakka, Senin (6/4/2026). Kegiatan ini menjadi forum strategis dalam membahas berbagai persoalan pendidikan, mulai dari distribusi tenaga pendidik hingga efektivitas penerapan digitalisasi di sekolah.

Pertemuan tersebut diikuti oleh para guru dari 14 Sekolah Dasar (SD) dan 5 Taman Kanak-kanak (TK) yang berada di wilayah Gugus 1 Lalabata. Selain itu, sejumlah pemangku kepentingan pendidikan turut hadir memberikan pandangan dan arahan.

Hadir dalam kegiatan tersebut antara lain Ketua Gugus 1 Abdul Azis, Pengawas Satuan Pendidikan Gugus 1 Sudirman, Sekretaris Dewan Pendidikan H.M. Zulkarnain, serta Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Soppeng Nurmal Idrus.

Dalam arahannya, Nurmal Idrus menyoroti persoalan klasik yang hingga kini masih dihadapi dunia pendidikan di Kabupaten Soppeng, yakni ketimpangan distribusi tenaga pendidik. Ia mengungkapkan bahwa secara umum jumlah guru di daerah tersebut sebenarnya mencukupi, bahkan cenderung berlebih. Namun, penyebarannya belum merata di setiap satuan pendidikan.

“Secara keseluruhan, guru kita ini sebenarnya tidak kekurangan. Tapi ada sekolah yang kelebihan, sementara yang lain justru kekurangan. Ini menunjukkan perlunya pemetaan dan redistribusi guru yang lebih tepat,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut menuntut adanya langkah konkret dari pihak terkait untuk melakukan penataan ulang distribusi guru agar lebih proporsional sesuai kebutuhan masing-masing sekolah.

Selain persoalan distribusi tenaga pendidik, forum tersebut juga menyoroti perkembangan digitalisasi pendidikan yang saat ini mulai masif diterapkan di berbagai sekolah. Meski demikian, implementasinya dinilai belum sepenuhnya memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan kualitas pembelajaran.

Penggunaan platform digital oleh guru, kata Nurmal, masih didominasi untuk kepentingan administratif, seperti penginputan data, penyusunan laporan, hingga absensi. Hal ini dinilai justru menyita waktu guru yang seharusnya bisa dimaksimalkan untuk kegiatan pembelajaran di kelas.

“Digitalisasi sudah berjalan, tapi belum optimal untuk pembelajaran. Guru masih lebih banyak tersita pada urusan administrasi digital,” jelasnya.

Ia menekankan pentingnya mengarahkan pemanfaatan teknologi digital tidak hanya sebatas administrasi, tetapi juga sebagai alat untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar yang lebih interaktif dan efektif.

Sementara itu, kegiatan KKG ini diharapkan dapat menjadi wadah kolaborasi bagi para guru dan pemangku kepentingan dalam menyamakan persepsi serta merumuskan langkah-langkah strategis untuk meningkatkan mutu pendidikan, khususnya di wilayah Gugus 1 Kecamatan Lalabata.

Meski berbagai isu strategis telah mengemuka dalam pertemuan tersebut, sejumlah poin masih membutuhkan pembahasan lanjutan dan kajian yang lebih mendalam agar dapat ditindaklanjuti dalam bentuk kebijakan yang lebih konkret dan implementatif di lapangan.

(Yunandar)

© Copyright 2019 SIGAPNEWS.COM | All Right Reserved