SOPPENG Sigapnews.com Malam di La Daffa Cafe and Coffee tampak biasa. Kopi tersaji, tawa sesekali pecah dan obrolan mengalir santai. Namun di balik suasana kasual itu, pertemuan sejumlah figur vokal dalam isu publik menyulut tanda tanya besar: sekadar silaturahmi atau awal dari menguatnya gelombang kontrol sosial di Kabupaten Soppeng
Sejumlah nama hadir dalam diskusi informal tersebut, antara lain Ketua JOIN Soppeng, Herwan, SH., M.Si Ketua LSM SIDIK, Mahmud Cambang. Pimpinan Redaksi Rilisinnfonews.id Andi Irfan Makmum serta Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Sumba Timur. Kombinasi unsur media, aktivis sosial dan aparat penegak hukum ini langsung menjadi perhatian.
Pertemuan itu berlangsung di tengah meningkatnya kegelisahan publik terhadap berbagai isu daerah, mulai dari transparansi tata kelola pemerintahan, pengawasan pembangunan, hingga persoalan lingkungan. Dalam diskusi tersebut, muncul satu benang merah. masyarakat hari ini tidak lagi cukup diberi narasi seremonial.
Ketua JOIN Soppeng, Herwan, SH., M.Si menegaskan bahwa media dan organisasi sosial wajib menjaga independensi moral di tengah derasnya arus kepentingan.
"Kalau semua memilih aman dan diam, maka siapa yang akan menjaga kewarasan publik? Demokrasi hidup karena ada keberanian mengingatkan, ujarnya.
Nada lebih tajam disampaikan Pimpinan Redaksi Rilis Info, Andi Irfan Makmum. Ia menyoroti fenomena sosial yang menurutnya mulai membuat masyarakat jenuh terhadap pencitraan tanpa substansi.
Publik sekarang bukan lagi penonton pasif. Masyarakat sudah bisa membedakan mana kerja nyata dan mana yang hanya sibuk mengelola kesan. Media tidak boleh hanya menjadi pengeras suara kekuasaan tetapi harus tetap berdiri sebagai ruang kontrol dan edukasi masyarakat, tegasnya.
Sementara itu, Ketua LSM SIDIK, Mahmud Cambang, mengingatkan bahwa kritik berbasis data bukanlah ancaman bagi pemerintah atau lembaga mana pun. Justru kritik yang sehat menjadi tanda bahwa masyarakat masih peduli terhadap arah daerah.
"Yang berbahaya bukan kritik. Yang berbahaya itu ketika publik mulai apatis karena merasa suaranya tidak lagi didengar, ungkap Mahmud.
Kehadiran Kajari Sumba Timur di tengah diskusi informal tersebut ikut memicu beragam tafsir publik. Meski dalam suasana santai, keberadaan unsur penegak hukum bersama insan media dan aktivis dinilai memberi pesan simbolik bahwa komunikasi lintas elemen tetap penting dalam menjaga stabilitas dan kepercayaan masyarakat.
Seorang pemerhati sosial lokal yang enggan disebutkan namanya menilai, pertemuan seperti ini mencerminkan meningkatnya kesadaran kolektif di masyarakat Soppeng.
"Kalau media mulai tajam, aktivis mulai intens berdiskusi, dan publik mulai berani bertanya, itu pertanda kontrol sosial sedang bangkit. Dan biasanya, itu membuat banyak pihak mulai gelisah,ujarnya.
La Daffa Cafe malam itu bukan lagi sekadar tempat menikmati kopi. Ia berubah menjadi ruang lahirnya percakapan yang mengandung pesan kuat: masyarakat kini tidak mudah puas dengan slogan, pencitraan, atau narasi formalitas. Di era keterbukaan, publik tidak hanya melihat apa yang ditampilkan, tetapi mulai membaca apa yang selama ini disembunyikan.
(Yund)


FOLLOW THE SIGAPNEWS.COM AT TWITTER TO GET THE LATEST INFORMATION OR UPDATE
Follow SIGAPNEWS.COM on Instagram to get the latest information or updates
Follow our Instagram