Selasa, 28 April 2020

Pertanian Organik adalah Pertanian "Amal Jariyah" Yang Mengkonsumsi Menjadi Sehat

Pertanian Organik adalah Pertanian "Amal Jariyah" Yang Mengkonsumsi Menjadi Sehat


Sigapnews.com, Makassar - Pertanian adalah salah satu bidang yang dituntut harus tetap produktif di tengah mewabahnya covid 19. Pertanian harus terus berjalan, demikianlah ungkapkan Menteri Pertanian yang sering digaungkan dalam memotivasi seluruh insan pertanian di negeri ini. Salah satu tumpuan besar dalam memajukan pertanian di negeri ini adalah generasi muda yang biasa disebut petani milenial.

Al Ansar Ardabian yang biasa dipanggil Ansar adalah salah satu alumni sertifikasi fasilitator organik tanaman (SFOT) yang dilaksanakan di Tempat Uji Kompetensi (TUK) BBPP Batangkaluku pada awal maret  tahun 2020 yang masih masuk dalam kategori milenial.
Sebelum  mengikuti sertifikasi profesi, Ansar sudah mengikuti lebih awal Pelatihan Fasilitator Organik Tanaman (Faston) yang dilaksanakan oleh P4S Alam Hijau Lestari.

Menurut Ansar, sejak mengikuti pelatihan Fasilitator organik tanaman, dia semakin termotivasi untuk membangun kesadaran petani agar bertani secara organik.

"Minimal masyarakat paham dulu tentang pertanian organik, mudah-mudahan setelah paham mereka bisa merubah mindset, karena yang sulit dirubah adalah mindsetnya", tutur Ansar.

Pria yang lahir di Makassar tanggal 2 januari 1981 ini memulai aktivitas di bidang pertanian diawali karena keinginannya untuk mengkonsumsi makanan yang sehat, khususnya sayur-sayuran. Karena lahan yang sempit di kota Makassar membuat Ansar menggandeng petani di luar makassar untuk melakukan budidaya yang sehat.

"Saat ini fokus kami adalah memfasilitasi petani sebanyak mungkin agar melakukan cara budidaya yang sehat," jelas Ansar.

Meskipun wabah covid 19 sedang melanda negeri ini, Ansar tetap melakukan pembinaan ke petani. Biasanya kami kondisikan jika mau kelapangan, jika petani konsultasi lewat telpon dan dianggap cukup maka kami tidak ke lapangan, tetapi jika kondisinya urgen maka kami langsung turun.

Sebagai contoh, baru-baru ini salah satu petani binaan agak "memaksa" agar kami datang ketempatnya, dan setelah kami tiba di rumahnya, beliau bercerita dengan penuh semangat bahwa panen di lahannya  yang 28 are dan selama ini rata-rata menghasilkan 28 karung, alhamdulillah setelah panen dengan proses budidaya gabungan antara konvensional dan organik menghasilkan 40 karung.  Padahal pupuk kimia hanya menggunakan 30% dari dosis anjuran dan selebihnya menggunakan teknologi organik berdasarkan anjuran fasilitator.

"Kami selalu mencoba mencari teknologi organik yang tepat guna, hal ini agar produksi tetap terjaga dan lambat laun petani mulai menghilangkan ketergantungannya dengan bahan kimia," jelas Ansar.

"Bagi kami, pertanian organik adalah pertanian "amal Jariyah" karena selain menyuburkan tanah dalam jangka panjang, hasil produksi akan memiliki residu kimia yang rendah sehingga orang-orang yang mengkonsumsinya juga sehat," lanjut Ansar.

"Meskipun wabah covid 19 saat ini sedang melanda, dia tetap membina petani. Kami punya binaan petani cabe, padi, jagung dan berbagai komoditas lainnya yang sudah merasakan manfaat melakukan budidaya secara organik. Harapan kami, ke depan pemerintah memberikan porsi yang besar terhadap pertanian organik sekaligus memberikan kepercayaan bahwa pertanian organik bisa menjadi solusi pembangunan pertanian masa depan Indonesia," jelas Ansar.

Sejalan dengan perkembangan Petani Milenial, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) menyatakan bahwa peningkatan peran generasi muda pertanian dalam mengembangkan dan memajukan sektor pertanian, agar lebih prospektif dan berpeluang ekspor perlu diprioritaskan, sehingga dibutuhkan petani-petani muda yang dapat memberikan kontribusi dalam gerakan pembaharuan pembangunan pertanian.

“Saya makin percaya anak muda yang mau terjun di bidang pertanian  bisa punya peluang kehidupan dan ekonomi yang lebih baik. Apalagi dengan memanfaatkan teknologi yang tersedia, maka dunia dalam genggaman mereka," ujar SYL.

Menindaklanjuti pernyataan Menteri Pertanian, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Prof. Dedi Nursyamsi menegaskan bahwa regenerasi petani sudah sangat mendesak untuk dilakukan.

"Mau tidak mau, suka tidak suka, mampu tidak mampu, Kita harus lakukan regenerasi petani kepada petani milenial dan petani andalan. Karena petani milenial dan petani andalanlah sebetulnya yang paling berperan sangat strategis di dalam pembangunan pertanian Indonesia," tegas Dedi.

Maju terus pertanian indonesi (JML) BBPP-BK

#Go organik
#Sertifikasi Profesi Fasilitator Organik Tanaman

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2019 SIGAPNEWS.COM | All Right Reserved